Laman

Kamis, 25 Oktober 2012

Berkorban adalah Bukti Cinta

"Allahu akbar Allahu akbar Allahu akbar Laailahailallahu wallahu akbar Allahu akbar walillahilham"

Gema takbir telah berkumandang, menyebutkan asma Allah dan mengingatkan akan kebesaran Allah, tiada tuhan selain Allah yang maha besar. Gema takbir yang saat ini sedang berkumandang adalah menandakan bahwa esok adalah hari raya Idul Adha.Hari raya Idul Adha atau dikenal juga sebagai hari raya Qurban, merupakan sebuah moment dimana setiap muslim di Mekkah sedang melaksanakan ibadah haji dan di negara lain menyembelih hewan qurban (bagi yang mampu). Menyembelih hewan qurban sebagai implementasi pengorbanan yang telah dilakukan oleh Nabi Ibrahim a.s. Kala itu, Nabi Ibrahim a.s. mendapatkan perintah melalui mimpinya untuk menyembelih putranya Nabi Ismail a.s.Selayaknya seorang ayah, Nabi Ibrahim a.s. sangat mencintai putranya Nabi Ismail a.s. Perintah Allah SWT untuk menyembelih putranya membuatnya bimbang, maka ia pun menceritakan mimpinya kepada Nabi Ismail a.s. Ternyata Nabi Ismail a.s. bersedia mengorbankan dirinya untuk disembelih demi untuk menjalankan perintah Sang Maha Pencipta yang lebih dicintainya dibandingkan dirinya sendiri.Nabi Ismail a.s. adalah putra yang sangat dinantikan Nabi Ibrahim a.s., tapi beliau tetap bersedia menyembelih putra tercintanya untuk melaksanakan perintah Allah SWT. Jika bukan karena rasa cinta yang lebih besar kepada sang Khalik, Nabi Ibrahim a.s. tak akan mampu menjalankan perintah-Nya. Begitu juga dengan Nabi Ismail a.s. tidak akan rela disembelih oleh ayahnya.Begitu besar rasa cinta Nabi Ibrahim a.s. dan Nabi Ismail a.s. kepada Allah SWT telah membuat mereka rela mengorbankan apapun yang mereka miliki hanya untuk memperoleh kembali cinta dari Allah SWT, dengan menjalankan setiap perintah-Nya dan menjauhi segala perintah-Nya.Rasa pengorbanan hadir ketika sudah ada rasa cinta. Cinta satu kata ajaib yang mampu merubah seorang yang kasar menjadi teramat lembut, merubah seorang yang begitu kaku menjadi sangat romantis, merubah seorang yang begitu acuh menjadi teramat peduli. Seseorang yang jatuh cinta bersedia melakukan berbagai hal untuk membahagiakan sang pujaan hati demi mendapatkan balasan cinta darinya atau minimal ucapan terima kasih.Atas nama cinta apapun akan dilakukannya, agar pujaan hati bisa mencintainya juga. Pekerjaan berat menjadi lebih ringan, bahkan pekerjaan sulit pun siap diselesaikan. Hal ini bisa terjadi karena rasa cintanya, sehingga rela berkorban untuk memberikan kebahagiaan atau mendapatkan rasa cinta dari sang pujaan hati.Layaknya seorang muslim yang sudah seharusnya mencitai Sang Pencipta, Allah SWT harus rela berkorban untuk menjalani setiap perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya. Berkorban sedikit waktu untuk melaksanakan shalat, mengorbankan sedikit uang yang diperoleh untuk membayar zakat, berkorban tidak makan dan minum sementara dalam menjalankan ibadah puasa. Berkorban tidak berkumpul teman-teman untuk menghindari ghibah, berkorban menahan cinta kepada lawan jenis untuk menghindari zina. Pengorbanan yang dilakukan adalah bukti keimanan, dan juga cinta seorang muslim kepada Allah SWT.

Selamat Hari Raya Qurban, semoga setiap pengorbanan yang telah dilakukan menjadi pemberat amal kebaikan di yaumul hisab dan menjadi kunci mendapatkan cinta dari Allah SWT.

Selasa, 23 Oktober 2012

Mahalnya Harga Sebuah Kejujuran

Terkejut, ketika seorang teman memperlihatkan selembar kertas berisi data jam mengajar. Surat tentang pembagian peran dan tugas guru. Ada yang tidak sesuai, namaku seharusnya tertera dengan jumlah jam mengajar 16 jam, tapi dalam lembar itu hanya 8 jam. Pertanyaanpun muncul, "kemana 8 jam lagi??". Temanku menunjukkan ada nama seseorang yang sebenarnya tidak pernah mengajar. Namanya dicantumkan dan tertera dia mengajar 8 jam. Ingin rasanya protes, dan ada rasa marah, kecewa, sedih. Tempat mengajar yang kupikir berbeda sejak awal, ternyata memang "berbeda" dari prasangkaku. Banyak kutemukan kecurangan setelah beberapa bulan aku terlibat di sana.
Sangat mengecewakan memang, lembaga pendidikan sebagai tempat menempa generasi penerus bangsa ternyata tidak memberikan contoh yang baik. Tidak heran rasanya, jika bangsa ini terus dan terus menjadi bangsa yang korup.
Terbersit dalam hati pertanyaan, "apa yang bisa saya lakukan, melihat kemaksiatan yang terjadi? Tidak ada kekuasaan untuk melarangnya, tidak ada tempat untuk berbicara, dan hanya mampu berdoa semoga disadarkan atas kesalahannya."
Sedih rasanya, berada dalam lingkungan yang tidak menjunjung tinggi nilai kejujuran. Kejujuran yang seharusnya diterapkan di setiap tempat dan waktu. Kejujuran yang seharusnya diajarkan dan dicontohkan dimanapun tempatnya. Namun, fakta berbicara bahwa kejujuran harus dibayar dengan banyak pengorbanan. Pegawai yang jujur harus bersiap untuk dipecat suatu saat dengan tidak hormat. Guru yang jujur harus berhadapan dengan argumen-argumen yang sangat mengusik hati dari para rekan-rekannya yang lebih mengutamakan "pendapatan" dan kelulusan peserta didik bukan karakter peserta didik.
Sadarkah teman, pengorbanan yang begitu besar sangatlah berarti dalam penilaian Allah SWT selama berkorban dalam menegakkan nilai-nilai kebenaran. 

Sabtu, 13 Oktober 2012

Mengembangkan Jiwa Kewirausahaan Melalui Mata Pelajaran Mulok dengan Pendekatan Belajar Mandiri


Indonesia merupakan Negara yang kaya dengan aneka sumber daya alam, juga kebudayaan yang beraneka ragam dari setiap wilayah di Indonesia. Kekayaan tersebut dapat menjadi modal utama bagi bangsa ini untuk membangun perekonomiannya yang sedang terpuruk. Keterpurukan yang tampak dari banyaknya penduduk usia angkatan kerja yang tak memperoleh kesempatan bekerja sehingga dapat memicu meningkatnya jumlah keluarga miskin.
Sejak dulu Indonesia terkenal sebagai Negara agraris. Sebagian besar penduduknya bermata pencaharian sebagai petani. Namun seiring dengan perkembangan zaman dan teknologi, perlahan status tersebut mulai bergeser. Lahan pertanian semakin berkurang berganti dengan gedung-gedung pabrik tempat produksi atau telah berganti dengan gedung-gedung bertingkat tempat bekerja para karyawan suatu perusahaan. Peran manusia pun mulai tergantikan dengan mesin yang semakin ditingkatkan manfaatnya untuk lebih menghemat biaya produksi. Keadaan tersebut dapat memicu meningkatnya jumlah pengangguran di Indonesia, karena lapangan pekerjaan yang tersedia tidak terus meningkat seiring dengan meningkatnya angka penduduk angkatan kerja.
Masalah tersebut dapat diatasi hanya dengan membuka lapangan pekerjaan yang dapat menyerap banyak angkatan kerja. Membuka perusahaan padat karya pernah dilakukan, namun tidak dapat menampung banyaknya angkatan kerja yang ada dan terus bertambah setiap tahun. Hal ini membuktikan bahwa, menciptakan lapangan kerja hanya dari satu pihak saja tidak akan dapat mengurangi angka pengangguran dengan pasti. Selain pemerintah, perlu adanya masyarakat yang juga membuka lapangan pekerjaan yaitu dengan cara berwirausaha. Kewirausahaan merupakan solusi yang diyakini mampu mengatasi masalah pengangguran.
Kewirausahaan dapat menciptakan lapangan pekerjaan baru dan orang yang berwirausaha pun telah membantu dirinya sendiri untuk mendapatkan perkerjaan. Tetapi tidak semua orang mampu untuk menjadi wirausaha karena tidak mempunyai jiwa sebagai seorang wirausahawan. Seorang wirausaha harus memiliki sikap ulet, semangat pantang menyerah yang dibarengi rasa percaya diri dan keberanian mengolah resiko[1]. Membangun jiwa dan sikap wirausaha tersebut membutuhkan waktu yang tidak singkat dan membutuhkan proses yang panjang. Proses tersebut dapat dilakukan sejak dini melalui pendidikan.
Pendidikan berperan untuk mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa[2]. Dengan demikian membangun sikap dan jiwa kewirausahaan dapat dilakukan sejak dini melalui pendidikan, baik pendidikan formal, non formal maupun pendidikan informal. Dalam hal ini penulis memberikan solusi pengembangan jiwa kewirausahaan melalui pendidikan formal, yakni sejak pendidikan dasar pada jenjang sekolah dasar.
Pada jenjang sekolah dasar, guru dapat mulai menanamkan nilai kejujuran, menumbuhkan rasa percaya diri siswa, dan memotivasi siswa agar tekun dan ulet dalam berusaha terutama dalam belajar. Nilai-nilai tersebut dapat ditanamkan oleh guru dengan menerapkan metode-metode pembelajaran yang dapat merangsang perkembangan nilai-nilai tersebut pada siswa. Sudah banyak penelitian yang dilakukan mengenai metode—metode pembelajaran yang dapat dijadikan referensi bagi guru untuk terus mengembangkan teknik pembelajaran yang dilakukan. Salah satu teknik pembelajaran yang dapat mengembangkan jiwa wirausaha ialah belajar mandiri.
Belajar mandiri ialah memposisikan pembelajar sebagai subyek, pemegang kendali dan pengambil keputusan. Guru berperan sebagai tutor atau instruktur siswa yakni hanya berfungsi sebagai fasilitator. Cara terbaik tutor atau instruktur memfasilitasi pembelajaran mandiri ialah[3]:
1.      Membantu pembelajar mengidentifikasi cara-cara mengawali suatu proyek belajar berikut cara memeriksa dan melaporkannya.
2.      Mengasosiasikan kontrak belajar.
3.      Menjadi manajer pengalaman belajar dan hindarkan menjadi pemberi informasi
4.      Membantu pembelajar menemukan teknik penilaian.
5.      Memastikan bahwa pembelajar menyadari tujuan belajar, strategi belajar, sumber-sumber belajar.
6.      Mengajarkan keterampilan inqury, pengambilan keputusan, pengembangan diri dan cara evaluasi.
7.      Membantu mencocokkan sumber belajar dengan kebutuhan pembelajar.
8.      Membantu pembelajar membangun sikap dan perasaan mandiri yang kreatif positif bagi belajarnnya.
9.      Menggunakan teknik-teknik yang dapat memperkaya pengalaman.
10.  Mengembangkan panduan belajar yang bermutu tinggi.
11.  Mendorong kemampuan pembelajar untuk berpikir kritis.
12.  Menciptakan iklim keterbukaan dan kepercayaan untuk meningkatkan kinerja.
13.  Membantu pembelajar dari segala bentuk manipulasi dengan cara menjunjung tinggi kode etik.
14.  Berperilaku secara etis.
Penerapan teknik belajar mandiri dapat membangun kemandirian siswa, terutama dalam hal pengambilan keputusan. Dengan demikian, siswa sudah terbiasa untuk mengambil keputusan dengan melakukan berbagai pertimbangan sebagaimana yang diarahkan oleh instrukturnya dalam hal ini ialah gurunya. Selain itu, siswa juga dapat terbiasa untuk melakukan evaluasi atas setiap hal yang telah dilakukannya. Evaluasi diri ini dapat memicu siswa untuk terus melakuan perbaikan dan melatih siswa untuk berani jujur pada diri sendiri untuk melihat kekurangan dan kesalahan diri sendiri. Kemampuan-kemampuan tersebut merupakan bagian dari sikap wirausaha yang harus dimiliki.
Jiwa wirausaha yang dibangun haruslah berbasis pada potensi lokal. Setiap wilayah di Indonesia memiliki potensi dan keunggulan yang berbeda satu sama lain. Sehingga pengembangan yang dilakukan pun berbeda. Seorang wirausaha ialah orang yang mampu melihat peluang dan kesempatan walaupun dalam masalah yang sedang ia hadapi. Kekayaan alam dan keragaman kebudayaan di Indonesia dapat menjadi masalah bagi bangsa ini jika tidak disikapi dengan bijak. Sikap untuk memahami bahwa perbedaan itu indah, bangga akan kebudayaan daerah dan dapat mengolah kekayaan alam dengan baik tanpa merusaknya.
Pengembangan jiwa wirausaha berbasis lokal melalui pendidikan dapat dilakukan dengan adanya pelajaran mulok (muatan lokal) yang berbasis kewirausahaan. Mulok merupakan kegiatan kurikuler untuk mengembangkan kompetensi yang disesuaikan dengan cirri khas, potensi dan keunggulan daerah yang materinya tidak dapat dikelompokkan ke dalam mata pelajaran yang ada, sehingga substansinya dapat ditentukan oleh satuan pendidikan dan tidak terbatas pada mata pelajaran keterampilan. Pengembangan mulok disesuaikan dengan kondisi satuan pendidikan dan kebutuhan daerah tempat satuan pendidikan tersebut. Pengembangan yang dilakukan haruslah berorientasi pada pembentukan wirausaha-wirausaha baru yang muncul baik ketika masih duduk di bangku sekolah maupun setelah lulus.
Mulok yang dikembangkan dapat berupa kebudayaan daerah atau keunggulan daerah, seperti batik, pembuatan makanan atau minuman khas daerah, penguasaan ornament, pengembangan wisata, pengembangan pengolahan hasil laut dan lain sebagainya. Dengan demikian setiap standar kompetensi dan kompetensi dasar yang dikembangkan dapat mengarah pada pelaksanaan mata pelajaran mulok yang berbasis wirausaha dengan pendekatan belajar mandiri.


[2] UU No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional Pasal 3
[3] Chaeruman, Uwes A. Prinsip Pembelajaran dengan Sistem Belajar Mandiri. 2007. http://fakultasluarkampus.net/2007/07/prinsip-pembelajaran-dengan-sistem-belajar-mandiri/

Pendidikan Matematika sebagai Sarana Membangun Insan Unggul dan Berprestasi


Insan unggul ialah insan yang dapat bermanfaat bagi orang-orang di sekitarnya, berakhlak mulia, mempunyai kekuatan spiritual keagamaan, berkepribadian baik serta dapat mengendalikan diri. Karakter insan unggul tersebut dapat dibentuk melalui upaya yang terencana dan berkelanjutan. Karakter insan unggul ini dapat mendukung terbentuknya karakter berprestasi.
Berprestasi ialah mempunyai prestasi yang tidak cukup dengan dinyatakan pernah menjuarai lomba atau kompetisi. Berprestasi memiliki makna lebih dari itu. Berprestasi merupakan kemampuan dapat memberikan sesuatu yang berguna dan bermanfaat bagi orang lain. Namun kemampuan itu tidak dapat dimiliki oleh orang-orang yang cerdas. Kemampuan itu dapat dimiliki oleh orang-orang yang cerdas baik secara akal maupun akhlak.
Pendidikan merupakan usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar pesera didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan Negara. Dalam definisi yang dicantumkan berdasarkan pengertian pendidikan menurut UU No. 20 tahun 2003 tentang Sisdiknas tersebut, tampak jelas bahwa pendidikan merupakan usaha sadar dan terencana dengan tujuan mengembangkan potensi peserta didik baik dalam segi kecerdasan akal maupun akhlak.
Pada hakikatnya penyelenggaraan pendidikan dilakukan untuk membentuk karakter manusia yang unggul, yakni bermanfaat bagi diri sendiri, masyarakat, bangsa dan Negara. Pendidikan diberikan secara berurut yang dibagi ke dalam beberapa mata pelajaran, seperti Sains, Bahasa Indonesia, IPS, Matematika dan lain sebagainya. Melalui mata pelajaran, guru melakukan pembelajaran dengan berbagai metode dan strategi yang tepat. Dalam pembelajaran yang dilakukan tidak hanya sekedar menyampaikan materi ajar, tapi juga menyampaikan nilai-nilai yang terkandung dalam materi ajar tersebut.
Pelajaran matematika tergolong dalam mata pelajaran eksak. Walaupun mata pelajaran ini banyak yang mengeluhkan sulit untuk dipelajari, tetapi pendidikan matematika memberikan banyak kontribusi dalam pembentukan karakter seseorang. Dimulai dari materi yang terkandung di dalamnya, hingga cara dalam penyelesaian soal matematika.
Mempelajari matematika harus dilakukan secara runtut, dimulai dari pembahasan yang paling mudah (konkrit) meningkat ke pembahasan yang agak sulit (semi abstrak) kemudian ke pembahasan yang sulit (abstrak). Nilai yang terkandung ialah dalam melakukan atau menyelesaikan suatu pekerjaan dilakukan dari hal yang termudah kemudian dengan sendirinya akan mampu menyelesaikan pekerjaan yang tersulit.
Dalam pembelajaran matematika siswa diajarkan mengenai hukum penjumlahan, pengurangan, perkalian dan pembagian. Hukum-hukum atau aturan-aturan tersebut merupakan dasar yang paling mendasar dalam matematika. Dengan mempelajari aturan-aturan tersebut, siswa diajarkan beberapa nilai diantaranya aturan penjumlahan mengajarkan siswa agar dapat terus menambah usaha positif (kebaikan) sehingga nilai positif (sikap baik) yang dimiliki pun akan bertambah besar. Aturan pengurangan ialah siswa diajarkan untuk tidak melakukan hal-hal negatif (keburukan) karena nilai positif (sikap baik) akan menjadi bertambah kecil atau sedikit. Semakin besar usaha negatif yang dilakukan semakin kecil nilai positif yang dimiliki. Aturan perkalian mengajarkan siswa jika melakukan suatu pekerjaan berkali-kali maka hasil yang diperoleh pun berkali lipat. Sedangkan aturan pembagian mengajarkan siswa untuk dapat berbagi kepada orang lain dengan adil, pembagian yang sama besar tanpa adanya perbedaan.
Selain belajar aturan-aturan tersebut, hal yang juga diberikan sebagai dasar dalam pendidikan matematika ialah materi logika. Dalam materi logika siswa diajarkan untuk menentukan konklusi berdasarkan premis-premis yang sudah ada sebelumnya sesuai dengan hukum-hukum yang telah ditentukan. Nilai yang terkandung ialah dalam mengambil keputusan atau kesimpulan diperlukan banyak mendengar dari beberapa pihak minimal dua pihak sehingga keputusan atau kesimpulan yang diambil merupakan hasil pemikiran yang logis.
Matematika disebut sebagai ilmu pasti. Setiap persoalan matematika dapat diselesaikan dengan berbagai cara. Namun terkadang pada suatu soal bisa terdapat beberapa jawaban yang memang menjadi solusi penyelesaian masalah matematika tersebut. Solusi masalah matematika dapat ditemukan dengan berbagai cara yang berbeda. Walaupun demikian, dalam mencari solusi penyelesaian matematika harus dilakukan dengan berpikir logis, runtut dan teliti dalam pengerjaannya serta diselesaikan dengan menerapkan hukum atau aturan matematika. Berdasarkan cara-cara penyelesaian masalah matematika tersebut, siswa diajarkan bahwa dalam menyelesaikan masalah harus dilakukan dengan memahami masalah secara jelas kemudian diselesaikan secara logis, runtut, teliti dan mematuhi nilai-nilai yang ada dalam masyarakat.
Pendidikan matematika merupakan sarana dalam pembentukan karakter manusia. Karakter yang dapat dibangun melalui pendidikan matematika ialah karakter yang selalu berpikir logis, runtut dalam menyelesaikan masalah, teliti, menyelesaikan masalah dengan berbagai cara namun tetap memperhatikan nilai-nilai yang ada dalam masyarakat. Karakter tersebut dapat membentuk karakter insan unggul yang memiliki kekuatan spiritual keagamaan, akhlak mulia, cerdas dan dapat memberikan manfaat bagi orang-orang di sekitarnya.

Menerapkan Pendidikan Berbasis Al-Qur’an dan Sunnah Rasulullah saw di Rumah sebagai Pondasi Membentuk Generasi Qur’ani



Pendidikan berperan penting dalam mempersiapkan sumber daya manusia yang berkualitas. Pendidikan yang dilakukan saat ini menentukan generasi di masa depan. Pendidikan merupakan suatu proses yang dilakukan secara sadar dan terencana untuk dapat membentuk manusia terdidik. Jika pendidikan dikelola dengan baik, maka generasi yang dihasilkan pun baik. Pada hakikatnya pendidikan merupakan kegiatan yang tidak pernah berhenti. Pendidikan akan terus terjadi sepanjang hayat. Proses pendidikan terjadi secara berkelanjutan.
Pendidikan sepanjang hayat tidak hanya terjadi di lembaga formal saja, seperti di sekolah tapi juga di rumah serta di lingkungan masyarakat. Pendidikan di rumah dimulai sejak masa pra lahir hingga mumayyiz. Pendidikan di lembaga formal di mulai sejak pendidikan dasar pada  usia anak-anak (6 tahun) hingga pendidikan tinggi sekitar 18 – 22 tahun. Sedangkan pendidikan di masyarakat dimulai sejak berinteraksi di masyarakat hingga wafat. Proses pendidikan terjadi secara runtut dan berkelanjutan untuk membentuk manusia terdidik yang dapat menanggung tugasnya sebagai khalifah, berbakti dan bertakwa kepada Allah S.W.T.
Walaupun demikian, pendidikan yang pertama dan terutama adalah di rumah. Seseorang sebelum mendapatkan pendidikan di lembaga formal, ia akan memperoleh pendidikan di madrasahnya yang pertama yaitu di rumah. Pendidikan ia peroleh dari kedua orang tuanya. Pendidikan di rumah dimulai sejak masa pralahir ialah masa dalam memilih pasangan juga masa ketika mengandung. Dalam memilih pasangan Rasulullah saw menganjurkan cara memilih pasangan dengan mengutamakan agamanya. Rasulullah saw juga mengajarkan adab-adab melakukan persetubuhan agar mendapatkan anak yang baik. Jika diperhatikan dalam Q.S. Al-Alaq pada ayat pertama memerintahkan manusia untuk membaca yang bermakna menuntut ilmu. Sedangkan pada ayat kedua, fokus pendidikan pada manusia terjadi pada perihal alaqah. Hal ini menjelaskan bahwa pembentukan bakal calon anak pun mempengaruhi proses pendidikan selanjutnya. Sedangkan ketika dalam kandungan, Rosnani (1988) menyatakan bahwa pendidikan bercorak rohaniyyah atau berbasis Al-Qur’an ialah membaca Al-Qur’an dan berdzikir, berdoa agar mendapatkan anak yang soleh, berilmu, beramal, dimurahkan rizki dan diwafatkan dalam keadaan Islam. Selain itu, harus dipastikan bahwa sang ibu mendapatkan asupan makanan yang halal dan baik.
Setelah anak lahir, Rasulullah saw mengajarkan agar anak dibacakan azan dan diiqamahkan agar kalimat yang pertama didengarnya setelah lahir di dunia ilaha kalimat tauhid yaitu kalimat yang mengesakan Allah SWT. Anak yang baru lahir mendapatkan pendidikan untuk mengenal Allah sebagai tuhannya yang esa. Memberikan nama yang baik, karena nama ditafsirkan sebagai doa. Menyempurnakan aqiqahnya dan mengkhitannya. Seluruh proses tersebut merupakan langkah awal bagi orang tua untuk memberikan pendidikan yang berdasarkan Al-Qur’an dan sunnah Rasulullah saw. Pendidikan yang mengenalkan nilai tauhid, kesehatan dan kebersihan.
Proses pendidikan pun terjadi ketika masa menyusui. Ibu menyusui buah hatinya untuk memenuhi asupan makanan yang baik kepada bayi juga untuk perkembangan rohani yang mengikat kasih sayang ibu dengan anaknya. Pentingnya masa menyusui sehingga mendapatkan perhatian dalam Al-Qur’an. Dalam Q.S. Al-Baqarah : 233, dianjurkan masa menyusui dilakukan selama 2 tahun, bahkan jika ibu tidak mampu untuk menyusui diberikan keringanan untuk menyapihnya (menyusui kurang dari 2 tahun) atau disusui oleh orang lain berdasarkan hasil musyawarah kedua orang tua bayi. Ayat tersebut memberikan perhatian penuh terhadap masa penyusuan. Masa penyusuan sangat penting karena pada masa itu bayi mulai bersinggungan dengan pengaruh eksternal. Pada masa ini terjadi interaksi yang intensif antara ibu dan anak, kedekatan tersebut dapat mempengaruhi pembentukan jati diri anak.
Ketika anak sudah dapat mulai belajar berbicara, orang tua sebaiknya mengajarkan lafaz-lafaz yang berisi ajaran tauhid seperti kalimat syahadat. Pada masa kanak-kanak orang tua harus memperhatikan pendidikan yang diberikan. Pendidikan yang diberikan ialah pengajaran tauhid, mengesakan Allah SWT, menjauhi syirik, mengenalkan dan sering memperdengarkan bacaan Al-Qur’an, mengisahkan kisah-kisah Nabi saw sehingga mengenal Rasulullah saw. Hal ini dimaksudkan untuk mengikat anak dengan iman, memahami Islam sebagai agamanya dan Al-Qur’an sebagai kitab serta Rasulullah saw sebagai teladan utama.
Pendidikan pada masa kanak-kanak merupakan pondasi awal pendidikan akidah yang sangat penting dalam kehidupan. Sebagaimana Abdullah Nasih Ulwan (1995) yang menyatakan bahwa kesempurnaan segala jenis kebajikan dan sumber segala kesempurnaan terletak pada akidah. Selain itu, orang tua pun perlu memberikan contoh perilaku yang baik kepada anak-anaknya. Selama proses perkembangan, anak lebih mudah untuk meniru apa yang dilakukan oleh orang tuanya. Oleh karenanya, dalam membentuk generasi Qur’ani kedua orang tua pun harus berperilaku Qur’ani yakni berperilaku sebagaimana yang dinyatakan dalam Al-Qur’an dan dicontohkan oleh Rasulullah saw.
Pendidikan yang diberikan di rumah sebagai pondasi akhlak merupakan pendidikan berdasarkan Al-Qur’an dan sunnah Rasulullah saw sehingga anak dapat membedakan antara perbuatan baik dan buruk. Selain itu, anak juga dapat berperilaku sebagaimana dicontohkan oleh Rasulullah saw dan diajarkan dalam Al-Qur’an melalui teladan dari kedua orang tuanya.
Kedua orang tua juga wajib mendidik akal anak agar dapat mengikuti perkembangan IPTEK sehingga dapat bermanfaat bagi bangsa dan Negara. Memberikan pendidikan ini dapat dilakukan dengan menentukan sekolah yang terbaik, baik dari segi kurikulum yang diterapkan, maupun guru yang mengajar. Sebagai tempat anak menuntut ilmu dan bergaul, sekolah mempunyai peran yang cukup penting dalam membentuk akhlak anak. Lingkungan yang baik akan mendukung perkembangan akhlakul karimah yang sudah ditanamkan sejak dini di rumah. Sebaliknya, lingkungan yang kurang baik dapat merusak perkembangan akhlakul karimah yang sudah ditanamkan oleh orang tua. Walaupun demikian, peran kedua orang tua lebih penting, karena proses pendidikan sebagian besar berada di rumah dan dilakukan oleh kedua orang tua.
Lingkungan memberikan pengaruh yang besar dalam pembentukan kepribadian. Namun, seseorang yang telah mempunyai pendirian dan akidah yang kuat, tidak akan mudah terpengaruh oleh lingkungan yang kurang baik bahkan ia mampu memberikan pengaruh yang baik terhadap lingkungannya yang kurang baik. Akidah yang kuat ini dapat dibentuk melalui pendidikan sejak dini yang dilakukan orang tua di rumah. Dengan demikian pendidikan di rumah merupakan pondasi utama dalam mencetak generasi yang berkualitas. Generasi Qur’ani yang dapat dibentuk melalui penerapan pendidikan berbasiskan Al-Qur’an dan sunnah Rasulullah saw. Oleh karena itu, untuk membentuk generasi Qur’ani maka diterapkan pendidikan berbasiskan Al-Qur’an dan sunnah Rasulullah saw di rumah.

Selasa, 11 September 2012

Pelangi pun Indah karena Perbedaan

Udara masih terasa sejuk, karena hujan baru saja berhenti. Namun, matahari sudah sedari tadi menampakkan cahayanya. Semburat cahaya yang hadir diantara awan yang baru saja selesai menunaikan tugasnya, mengahadirkan rangkaian warna yang berbeda-beda. Peristiwa tersebut biasa kita kenal dengan sebutan pelangi. "Merah, kuning, hijau di langit yang biru" sebait lagu anak-anak tentang pelangi.
Tidak ada yang menyangkal keindahan pelangi. Pelangi merupakan peristiwa alam yakni, penyebaran (difraksi) cahaya menjadi berbagai spektrum warna (mejikuhibiniu). Perbedaan warna tidak membuat pelangi "dibenci" tapi membuat pelangi sangat disukai.
Itulah indahnya perbedaan. Namun, tidak sama dengan perbedaan yang ada dalam kehidupan sosial manusia. Perbedaan-perbedaan yang ada bukanlah menjadi unsur yang mengindahkan hubungan sosial antar manusia, tapi justru menjadi salah satu faktor penyebab kericuhan atau pun permusuhan antar manusia. Seolah, 'mereka' tidak bersedia menerima adanya perbedaan dalam tatanan sosial, perbedaan dalam tradisi (kebiasaan), perbedaan 'keyakinan'.
Tidakkah kita belajar dari pelangi?? Pelangi yang indah karena perbedaan warna yang menyatu. Perbedaan-perbedaan tersebut pada hakikatnya berasal dari satu sumber yakni cahaya yang putih.

Senin, 10 September 2012

Cahaya Ilahi

Berjalan dalam kegelapan
Menelusuri batu terjal
Bibir Bergetar
Menyebut asma-Mu, ya Allah
Samudra ingin kusebrangi
Namun mutiara kehidupan terbenam di dasarnya
Nabi Khidir pun menangis
Menyaksikan kemaksiatan dipermainkan
Jiwa yang kudus takkan berpaling
Pada-Mu ya Allah
Meski perahu yang kupakai terbentur badai kemiskinan
Ya... Ilahi
Cahaya-Mu kujadikan saksi
Saat adzan subuh mendayu-dayu
Gemetar seluruh jiwa
Balutlah kehidupan manusia dengan cahaya surgawi yang abadi

By:
KSI 42

Sabtu, 08 September 2012

Untuk Apa Aku Belajar ini???


Matahari terasa tepat ada di atas kepala, panasnya sangat menyengat. Rasa gerah pun ikut menyapa, mengiringi setiap langkah seorang anak tanggung berpakaian putih biru. Dengan tasnya yang penuh dengan buku ia berjalan dengan langkah sedikit gontai, pertanda rasa lelah yang dirasa pulang menuntut ilmu di sekolah. "Rasanya semakin hari, setiap pelajaran makin susah aja. Kenapa ya..banyak banget pelajaran di sekolah?", tanyanya dalam hati. Mungkin pertanyaan ini juga sempat mampir di hati atau pikiran kita sewaktu sekolah. Pelajaran yang beragam bahkan semakin beragam sekarang membuat siswa merasa sedikit "terbebani". Sebenarnya rasa "beban" tersebut hadir karena ketidaktahuan manfaat mempelajari pelajaran tersebut. Tidak banyak guru yang memberikan penjelasan manfaat materi pelajaran yang dipelajari dalam kehidupan sehari-hari. Baik secara langsung atau tidak, setiap mata pelajaran memiliki manfaat yang saling melengkapi dalam kehidupan sehari-hari, terutama untuk membentuk kepribadian yang sangat bermanfaat bagi masyarakat.
Berikut ini adalah sedikit ulasan manfaat dari beberapa mata pelajaran berdasarkan observasi dan beberapa referensi (maaf tidak bisa disebutkan, karena lupa nama bukunya :)) :
Matematika mengajarkan seseorang untuk membiasakan diri bersikap jujur, bertanggung jawab, bernalar dan runut dalam mengambil keputusan.
Bahasa (Inggris, Indonesia, Sunda, Jepang, Jerman, dsb) mengajarkan seseorang untuk bisa berkomunikasi dengan orang lain dengan sopan dan santun. Melalui bahasa, seseorang dapat memahami apa yang disampaikan orang lain serta dapat menyampaikan apa yang dipikirkan dengan cara yang baik dan santun. Selain itu, melalui bahasa seseorang juga dapat mengenal budaya dan kehidupan di tempat (negara) lain.
IPA (Biologi, Fisika, Kimia) mengajarkan agar seseorang mengenal berbagai sumber alam dan mampu memanfaatkannya untuk kebutuhan manusia tanpa harus merusaknya serta tetap menjaganya agar dapat terus bisa bermanfaat bagi kehidupan selanjutnya. Selain itu, mata pelajaran ini juga mengingatkan akan kebesaran Tuhan yang telah menciptakan makhluk hidup dengan berbagai "aksesoris" yang semuanya memberikan fungsi dan saling melengkapi satu sama lain.
IPS (Geografi, Sejarah, Ekonomi) mengajarkan seseorang agar mampu bersosialisasi sebagaimana makhluk sosial yang tidak mampu untuk hidup sendiri.
TIK (Komputer) mengajarkan untuk bisa mengenal dan mampu memanfaatkan teknologi komputer sebagai salah satu media meningkatkan kapasitas kehidupan.
Itulah sedikit ulasan manfaat yang dapat diperoleh jika mempelajari dengan sungguh-sungguh setiap mata pelajaran yang ada di sekolah. Mungkin masih banyak manfaat lain yang belum diungkapkan dalam tulisan ini.
Sekolah itu bukanlah sekedar belajar untuk mendapatkan nilai yang bagus, ijazah ataupun gelar. Tapi, sekolah adalah tempat untuk menuntut ilmu sebagai sarana menempa pribadi menjadi orang yang lebih baik dan bisa lebih bermanfaat bagi diri sendiri juga orang lain. Manfaat ini tidak bisa langsung dirasakan, tapi semua itu dapat terasa sejalan dengan proses yang dilakukan.

Semoga tulisan ini bermanfaat, terisnpirasi dari murid-muridku di SMP.

Jumat, 13 Juli 2012

Perayaan Maulid Nabi

Maulid Nabi Muhammad saw, ialah suatu perayaan atas kelahiran Nabi Muhammad saw yang membawa risalah yang telah disempurnakan dari Nabi & Rasul sebelumnya. Adakah risalah atau ajaran tentang perayaan hari kelahiran Nabi Muhammad saw ? Jika baca sirah Nabawiyah, tidak ditemukan kisah tentang perayaan tersebut. Bisa dikatakan juga, semasa Nabi Muhammad saw hidup, tidak ada perayaan hari kelahirannya.
Oleh karena itu beberapa pendapat tentang hal ini, ada yang menyatakan perayaan ini sebagai bid'ah, ada yang menyatakan perayaan ini adalah bukti cinta umat kepada Rasulullah saw, manakah yang benar ? Ada beberapa literatur tentang dalil mengenai masalah ini semoga bisa jadi landasan awal menjawab pertanyaan tersebut, selanjutnya didiskusikan dengan pakarnya ya... :)
 Diantara dalilnya:
  1. Allah taala berfirman:  Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu. (Q.S. Al Maidah: 3 ). Ayat di atas menjelaskan bahwa agama islam telah sempurna tidak boleh ditambah dan dikurangi, maka orang yang mengadakan perayaan maulid Nabi yang dibuat setelah rasulullah shallallahu `alaihi wasallam wafat berarti menentang ayat ini dan menganggap agama belum sempurna masih perlu ditambah. Sungguh peringatan maulid bertentangan dengan ayat di atas.
  2. Sabda Nabi shallallahu `alaihi wasallam :  ( إِﱠﻳﺎ ُﻛ ْﻢ وَ ُﻣ ْﺤ َﺪَﺛﺎ ِت ُ اﻷ ُﻣ ْﻮِر ﻓَِﺈ ﱠن ﻛُ ﱠﻞ ﺑِ ْﺪ َﻋ ٍﺔ ﺿَ َﻼَﻟ ٌﺔ ) رواه أﺑﻮ داود واﻟﺘﺮﻣﺬي "Hindarilah amalan yang tidak ku contohkan (bid`ah), karena setiap bid`ah menyesatkan”. HR. Abu Daud dan Tarmizi. Peringatan maulid Nabi tidak pernah dicontohkan Nabi, berarti itu adalah bi'dah, dan setiap bi'dah adalah sesat, berarti maulid peringatan Nabi adalah perbuatan sesat.
  3. Sabda Nabi shallallahu `alaihi wasallam :  (( ﻣَ ْﻦ أَ ْﺣ َﺪ َث ﻓِ ْﻲ أَ ْﻣ ِﺮَﻧﺎ ھَ َﺬا ﻣَﺎ ﻟَ ْﯿ َﺲ ﻣِ ْﻨ ُﻪ ﻓَ ُﮫ َﻮ رَ ﱞد )) ﻣﺘﻔﻖ ﻋﻠﯿﻪ3وﻓﻲ رواﻳﺔ ﻟﻤﺴﻠﻢ (( ﻣَ ْﻦ ﻋَ ِﻤ َﻞ ﻋَ َﻤ ًﻼ ﻟَ ْﯿ َﺲ ﻋََﻠ ْﯿ ِﻪ أَ ْﻣ ُﺮَﻧﺎ ﻓَ ُﮫ َﻮ رَ ٌد ))  “Siapa yang menghidupkan suatu amalan yang tidak ada dasarnya dalam dien kami, amalannya ditolak.” Muttafaq ’alaih  Dalam riwayat Muslim:  “Siapa yang mengamalkan perbuatan yang tidak ada dasarnya dalam dien kami, amalannya ditolak.”Dua hadist di atas menjelaskan bahwa setiap perbuatan yang tidak dicontoh Nabi tidak akan diterima di sisi Allah subhanahu wa ta'ala, dan peringatan maulid Nabi tidak dicontohkan oleh Nabi berarti peringatan maulid Nabi tidak diterima dan ditolak.
  4. Sabda Nabi shallallahu `alaihi wasallam:  (( ﻣَ ْﻦ ﺗَ َﺸﱠﺒ َﻪ ﺑِ َﻘ ْﻮ ٍم ﻓَ ُﮫ َﻮ ﻣِ ْﻨ ُﮫ ْﻢ )) رواه أﺑﻮ داود                                      "Barang siapa yang meniru tradisi suatu kaum maka dia adalah bagian dari kaum tersebut. HR. Abu Daud.             Tradisi peringatan hari lahir Nabi Muhammad meniru tradisi kaum Nasrani merayakan hari kelahiran Al Masih (disebut dengan hari natal) , maka orang yang melakukan peringatan hari kelahiran Nabi bagaikan bagian dari kaum Nasrani -wal 'iyazubillah-.
  5. Peringatan maulid Nabi sering kita dengar dari para penganjurnya bahwa itu adalah perwujudan dari rasa cinta kepada Nabi. Saya tidak habis pikir bagaimana orang yang mengungkapkan rasa cintanya kepada Nabi dengan dengan cara melanggar perintahnya, karena Nabi telah melarang umatnya berbuat bidah. Ini laksana ungkapkan oleh seorang penyair:                           ﻟَ ْﻮ ﻛَﺎ َن ﺣُﱡﺒ َﻚ ﺻَﺎ ِدﻗًﺎ ﻟََﺄ َﻃ ْﻌَﺘـ ُﻪ  إِ ﱠن اﻟ ُﻤ ِﺤﱠﺒِﻠ َﻤ ْﻦ أَ َﺣ ﱠﺐ ﻣُ ِﻄ ْﯿـ ُﻊ                             "Jikalau cintamu kepadanya tulus murni, niscaya engkau akan mentaatinya. Karena sesungguhnya orang yang mencintai akan patuh terhadap orang yang dicintainya
  6. Orang yang mengadakan perhelatan maulid Nabi yang tidak pernah diajarkan Nabi sesungguhnya dia telah menuduh Nabi telah berkhianat dan tidak menyampaikan seluruh risalah yang diembannya.  Imam Malik berkata," orang yang membuat suatu bidah dan dia menganggapnya adalah suatu perbuatan baik, pada hakikatnya dia telah menuduh Nabi berkhianat tidak menyampaikan risalah. 
*Dikutip dari: Makalah Sejarah Maulid, hukum dan pendapat ulama terhadapnya karya Nashir Moh. Al Hanin dan sumber lain.

Selain kutipan makalah tersebut, ada artikel lain yang ditemukan dengan pendapat yang sama;
Jawaban Syaikh Muhammad bin Shalih Al-’Utsaimin rahimahullah atas pertanyaan hukum merayakan Maulid Nabi saw, ialah:
Pertama, malam kelahiran Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak diketahui secara pasti kapan. Bahkan sebagian ulama masa kini menyimpulkan hasil penelitian mereka bahwa sesungguhnya malam kelahiran beliau adalah pada tanggal 9 Robi’ul Awwal dan bukan malam 12 Robi’ul Awwal. Oleh sebab itu maka menjadikan perayaan pada malam 12 Robi’ul Awwal tidak ada dasarnya dari sisi latar belakang historis.
Kedua, dari sisi tinjauan syariat maka merayakannya pun tidak ada dasarnya. Karena apabila hal itu memang termasuk bagian syariat Allah maka tentunya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melakukannya atau beliau sampaikan kepada umatnya. Dan jika beliau pernah melakukannya atau menyampaikannya maka mestinya ajaran itu terus terjaga, sebab Allah ta’ala berfirman yang artinya, “Sesungguhnya Kamilah yang menurunkan Al Quran dan Kami lah yang menjaganya.” (QS. Al-Hijr: 9)
*Dikutip dari artikel Apa Hukum Merayakan Maulid Nabi? — Muslim.Or.Id by null

Ada juga ulama yang berpandangan bahwa Perayaan Maulid Nabi saw adalah bid'ah yang baik, dan jika dikerjakan mendapatkan pahala karena tidak bertentangan dengan Al-Qur'an dan Sunnah. Lebih lengkapnya bisa dibaca di tautan berikut;
http://blog.its.ac.id/syafii/2011/02/10/pandangan-ulama-tentang-peringatan-maulid-nabi-muhammad-saw/

Banyak orang mempunyai alasan melakukan perayaan ini, namun sebaiknya dalam melakukan suatu ibadah sudah mengetahui dengan jelas agar tidak terjerumus pada suatu amalan yang hanya merupakan rutinitas yang dilakukan oleh banyak orang tanpa tau kebenaran yang sesungguhnya, sebagaimana firman Allah :
"Dan jika kamu menuruti kebanyakan orang-orang yang di muka bumi ini, niscaya merekaakan menyesatkanmu dari jalan Allah. Mereka tidak lain hanyalah mengikuti persangkaanbelaka, dan mereka tidak lain hanyalah berdusta (terhadap Allah)"(Q.S. Al An'aam: 116 )
Wallahu 'Alam bis Shawab

sumber :
http://d2.islamhouse.com/data/id/ih_articles/id_Sejarah_Peringatan_Maulid_Nabi.pdf
http://muslim.or.id/manhaj/apa-hukum-merayakan-maulid-nabi.html
http://www.madinatulilmi.com/?prm=posting&kat=1&var=detail&id=326

Semua Berawal dari Kejujuran

Jujur adalah sifat yang berterus terang apa adanya tanpa ada hal yang dikurangi juga ditambahkan. Setiap yang dikatakan adalah kebenaran, dan setiap hal yang dilakukan adalah kenyataan tanpa ada maksud rekayasa. Jujur, kata yang sederhana tapi penuh makna. Tidak ada mata pelajaran atau mata kuliah jujur, jadi kejujuran seseorang sulit diukur karena tidak ada alat evaluasinya (tes).
Sudah banyak permasalahan bangsa, kerusakan moral generasi muda, pembangunan yang tidak merata, kesenjangan sosial yang makin tinggi dan kesejahteraan bangsa. Tak sedikit juga solusi yang ditawarkan dan sudah dilakukan untuk menyelesaikan masalah satu per sat. Tapi, banyak orang berkata, akar permasalahan utama adalah korupsi, pemerintahan yang tidak jujur. Hal inipun memicu tindakan pencurian di kalangan masyarakat tidak berjas dan berdasi.
Tindak kriminal itu berawal dari sikap tidak jujur. Orang yang koruspi berarti dia telah bertindak tidak jujur pada dirinya sendiri, pada orang yang dipimpinnya, dan terutama pada Tuhannya. Orang yang mencuri berarti dia telah bertindak tidak jujur pada diri sendiri, masyarakat, dan sang pemilik. Jika ditelusuri lebih teliti, sebenarnya semua berawal dari kejujuran.
Seorang pemimpin yang jujur, dia akan memimpin dengan melayani. Memberikan hak-hak orang-orang yang dipimpinnya, melaksanakan kewajibannya. Menepati janji yang telah diucapkannya, tanpa mencari alasan untuk bisa menjadi dalih ketidakmampuannya. Bersedia mengakui kesalahan dan bersedia memperbaikinya.
Seorang guru yang jujur, akan mendidik siswanya dengan cara yang terbaik. Datang mengajar tepat waktu dan keluar kelas sesuai dengan jadwal. Kedisiplinan tidak hanya diterapkan pada para siswanya, tapi terutama pada dirinya sendiri. Memberikan nilai sesuai kemampuan siswanya, bukan hasil tebak-tebakkan dan perkiraan semata. Berani berkata, "maaf" jika telah melakukan kesalahan. Berani mengakui kekurangan dan bersedia memperbaiki diri.
Seorang siswa yang jujur, akan melakukan kewajibannya. Berani bertanya, dan bilang "belum mengerti" serta bersedia berdiskusi dengan teman-temannya.
Kejujuran bukanlah materi pelajaran yang mudah diajarkan dan dipelajari layaknya matematika. Kejujuran adalah sebuah nilai diri yang perlu ditanamkan sejak dini di madrasah pertama yakni oleh Ibu. Bahkan Allah SWT mengutus Rasulullah saw yang memiliki sifat jujur untuk memperbaiki akhlak manusia. Rasulullah saw yang masih muda mendapatkan julukan al-Amin yang berarti yang dipercaya. Kejujuran ini adalah awal dari semua perbuatan. Jujur menggunakan waktu ialah disiplin, jujur menggunakan harta ialah hemat, jujur pada orang lain ialah kata = tindakan, jujur pada diri sendiri ialah memenuhi apa yang dibutuhkan bukan apa yang diinginkan.

Syahadatain...


Syahadatain begitu berat diperjuangkan oleh Nabi Muhammad saw dan para sahabat, bahkan mereka rela dan tidak takut terhadap segala ancaman orang kafir. Misalnya Habib, sahabat Rasulullah yang berani menghadapi siksaan yang dipotong tubuhnya satu per satu oleh Musailamah. Bilal bin Rabah mampu bertahan menerima siksaan dihimpit batu besar pada siang hari, dan beberapa deretan sahabat Rasulullah saw yang lainnya. Mereka mempertahankan syahadatain dengan jiwa raga mereka.
Mayoritas umat Islam mengartikan syahadat hanya sebatas ikrar, yang hanya diartikan sebagai pengakuan. Mengakui Tuhan yang satu, yaitu Allah SWT dan Nabi Muhammad saw sebagai utusan Allah. Pengakuan ini telah dinyatakan oleh  Allah SWT, para malaikat dan orang-orang yang berilmu sebagaimana dijelaskan dalam Q.S. Ali-imran : 18,
“Allah menyatakan bahwasanya tidak ada Tuhan melainkan Dia (yang berhak disembah), Yang menegakkan keadilan. Para malaikat dan orang-orang yang berilmu (juga menyatakan yang demikian itu). Tak ada Tuhan melainkan Dia (yang berhak disembah), Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana”
Syahadah tidak hanya mengandung arti ikrar saja, tapi juga mengandung arti sumpah dan perjanjian. Sumpah dalam kamus bahasa Indonesia berarti pernyataan disertai tekad melakukan sesuatu untuk menguatkan kebenaran atau janji yang teguh akan menunaikan sesuatu, seperti dicontohkan dalam Q.S. An Nuur : 6 dan 8.
“Orang-orang yang menuduh isterinya (berzina), padahal mereka tidak ada mempunyai saksi-saksi selain diri mereka sendiri, maka persaksian orang itu ialah empat kali bersumpah dengan nama Allah, sesungguhnya dia adalah termasuk orang-orang yang benar” (Q.S. An Nuur : 6)
“Isterinya itu dihindarkan dari hukuman oleh sumpahnya empat kali atas nama Allah sesungguhnya suaminya itu benar-benar termasuk orang-orang yang dusta” (Q.S. An Nuur : 8)
Akibat janji dan sumpah ialah adanya perilaku untuk membenarkan pengakuan yang telah diikrarkan, yakni beriman. Iman sebagai dasar dan juga hasil dari pengertian syahadah yang betul. Iman merupakan pernyataan yang keluar dari mulut, juga diyakini oleh hati dan diamalkan oleh perbuatan sebagai pengertian yang sebenarnya dari iman. Apabila kita mengamalkan syahadat dan mendasarinya dengan iman yang konsisten dan istiqamah, maka beberapa hasil akan dirasakan seperti keberanian, ketenangan dan optimis menjalani kehidupan.
Istiqamah ialah menempuh jalan (agama) yang lurus (benar) dengan tidak berpaling ke kiri maupun ke kanan. Istiqomah ini mencakup pelaksanaan semua bentuk ketaatan (kepada Allah) lahir dan batin, dan meninggalkan semua bentuk larangan-Nya. Inilah pengertian istiqomah yang disebutkan oleh Ibnu Rajab Al Hambali.

 Di antara ayat yang menyebutkan keutamaan istiqomah adalah firman Allah Ta’ala,
Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: "Rabb kami ialah Allah" kemudian mereka istiqomah pada pendirian mereka, maka malaikat akan turun kepada mereka (dengan mengatakan): "Janganlah kamu merasa takut dan janganlah kamu merasa sedih; dan bergembiralah kamu dengan (memperoleh) surga yang telah dijanjikan Allah kepadamu".” (QS. Fushilat: 30)
Ayat di atas menceritakan bahwa orang yang istiqomah dan teguh di atas tauhid dan ketaatan, maka malaikat pun akan memberi kabar gembira padanya ketika maut menjemput, “Janganlah takut dan janganlah bersedih”. Zaid bin Aslam mengatakan bahwa kabar gembira di sini bukan hanya dikatakan ketika maut menjemput, namun juga ketika di alam kubur dan ketika hari berbangkit. Inilah yang menunjukkan keutamaan seseorang yang bisa istiqomah.
Kabar gembira “janganlah takut”, dapat juga dikatakan berani. Orang yang istiqamah mempunyai keberanian untuk membela agama Allah tidak seperti orang munafik yang meragukan kekuatan Nabi Muhammad saw dan orang-orang Islam yang akan dibantu oleh Allah dengan kemenangan dan kejayaan. Allah SWT telah menjanjikan, bahwa setiap mukmin yang berjuang membela agama-Nya, akan dibantu dengan kekuatan dan kemenangan, yang telah jelas dalam Q.S. Al-Maidah : 52,
“Maka kamu akan melihat orang-orang yang ada penyakit dalam hatinya (orang-orang munafik) segera mendakati mereka (Yahudi dan Nasrani) seraya berkata, “Kami takut akan mendapat bencana”. Mudah-mudahan Allah akan mendatangkan kemenangan (kepada Rasul-Nya), atau sesuatu keputusan dari sisi-Nya. Maka karena itu mereka menyesal terhadap apa yang mereka rahasiakan dalam diri mereka.”
Kabar gembira “jangan bersedih”, dapat digambarkan sebagai ketentraman. Orang yang istiqamah akan mendapatkan ketentraman hati karena mereka mengingat Allah, dan taat dengan melakukan kebajikan. Firman Allah dalam Q.S. Ar-Ra’d : 28,
“(yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tentram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah-lah hidup menjadi tentram.”
Kabar gembira ini disampaikan kepada orang-orang beriman agar mereka istiqamah sehingga dapat menjalani hidup dengan optimis. Optimis terhadap kehidupan yang mereka jalani, karena mereka telah yakin atas janji Allah sebagaimana disebutkan dalam Q.S. An Nuur : 55.
“Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan mengerakan amal-amal yang saleh bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di muka bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridhai-Nya untuk mereka, dan Dia benar-benar akan menukar (keadaan) mereka, sesudah mereka dalam ketakutan menjadi aman sentosa. Mereka tetap menyembah-Ku dengan tiada mempersekutukan sesuatu apapun dengan Aku. Dan barang siapa yang (tetap) kafir sesudah (janji) itu, maka mereka itulah orang-orang yang fasik.”
Pada akhirnya Allah SWT memberikan kebahagiaan kepada mereka di dunia dan di akhirat. Mereka mendapatkan kebahagiaan di akhirat, yakni syurga. Allah SWT berfirman dalam Q.S. Ali-Imran : 185,
“Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Dan sesungguhnya pada hari kiamat sajalah disempurnakan pahalamu. Barangsiapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam syurga, maka sungguh ia telah beruntung. Kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdayakan.”
Wallahu ‘alam bis shawab...
Sumber:
Prayitno, Irwan. Kandungan Kalimat Syahadah. 18 Maret 2008. http://irwanprayitno.info/tarbiyah/1205808381-kandungan-kalimat-syahadat.htm
http://www.rumaisyo.com

Rabu, 29 Februari 2012

Kandungan Kalimat Syahadat


Syahadatain begitu berat diperjuangkan oleh Nabi Muhammad saw dan para sahabat, bahkan mereka rela dan tidak takut terhadap segala ancaman orang kafir. Misalnya Habib, sahabat Rasulullah yang berani menghadapi siksaan yang dipotong tubuhnya satu per satu oleh Musailamah. Bilal bin Rabah mampu bertahan menerima siksaan dihimpit batu besar pada siang hari, dan beberapa deretan sahabat Rasulullah saw yang lainnya. Mereka mempertahankan syahadatain dengan jiwa raga mereka.
Mayoritas umat Islam mengartikan syahadat hanya sebatas ikrar, yang hanya diartikan sebagai pengakuan. Mengakui Tuhan yang satu, yaitu Allah SWT dan Nabi Muhammad saw sebagai utusan Allah. Pengakuan ini telah dinyatakan oleh  Allah SWT, para malaikat dan orang-orang yang berilmu sebagaimana dijelaskan dalam Q.S. Ali-imran : 18,
“Allah menyatakan bahwasanya tidak ada Tuhan melainkan Dia (yang berhak disembah), Yang menegakkan keadilan. Para malaikat dan orang-orang yang berilmu (juga menyatakan yang demikian itu). Tak ada Tuhan melainkan Dia (yang berhak disembah), Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana”
Syahadah tidak hanya mengandung arti ikrar saja, tapi juga mengandung arti sumpah dan perjanjian. Sumpah dalam kamus bahasa Indonesia berarti pernyataan disertai tekad melakukan sesuatu untuk menguatkan kebenaran atau janji yang teguh akan menunaikan sesuatu, seperti dicontohkan dalam Q.S. An Nuur : 6 dan 8.
“Orang-orang yang menuduh isterinya (berzina), padahal mereka tidak ada mempunyai saksi-saksi selain diri mereka sendiri, maka persaksian orang itu ialah empat kali bersumpah dengan nama Allah, sesungguhnya dia adalah termasuk orang-orang yang benar” (Q.S. An Nuur : 6)
“Isterinya itu dihindarkan dari hukuman oleh sumpahnya empat kali atas nama Allah sesungguhnya suaminya itu benar-benar termasuk orang-orang yang dusta” (Q.S. An Nuur : 8)
Akibat janji dan sumpah ialah adanya perilaku untuk membenarkan pengakuan yang telah diikrarkan, yakni beriman. Iman sebagai dasar dan juga hasil dari pengertian syahadah yang betul. Iman merupakan pernyataan yang keluar dari mulut, juga diyakini oleh hati dan diamalkan oleh perbuatan sebagai pengertian yang sebenarnya dari iman. Apabila kita mengamalkan syahadat dan mendasarinya dengan iman yang konsisten dan istiqamah, maka beberapa hasil akan dirasakan seperti keberanian, ketenangan dan optimis menjalani kehidupan.
Istiqamah ialah menempuh jalan (agama) yang lurus (benar) dengan tidak berpaling ke kiri maupun ke kanan. Istiqomah ini mencakup pelaksanaan semua bentuk ketaatan (kepada Allah) lahir dan batin, dan meninggalkan semua bentuk larangan-Nya. Inilah pengertian istiqomah yang disebutkan oleh Ibnu Rajab Al Hambali.

 Di antara ayat yang menyebutkan keutamaan istiqomah adalah firman Allah Ta’ala,
Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: "Rabb kami ialah Allah" kemudian mereka istiqomah pada pendirian mereka, maka malaikat akan turun kepada mereka (dengan mengatakan): "Janganlah kamu merasa takut dan janganlah kamu merasa sedih; dan bergembiralah kamu dengan (memperoleh) surga yang telah dijanjikan Allah kepadamu".” (QS. Fushilat: 30)
Ayat di atas menceritakan bahwa orang yang istiqomah dan teguh di atas tauhid dan ketaatan, maka malaikat pun akan memberi kabar gembira padanya ketika maut menjemput, “Janganlah takut dan janganlah bersedih”. Zaid bin Aslam mengatakan bahwa kabar gembira di sini bukan hanya dikatakan ketika maut menjemput, namun juga ketika di alam kubur dan ketika hari berbangkit. Inilah yang menunjukkan keutamaan seseorang yang bisa istiqomah.
Kabar gembira “janganlah takut”, dapat juga dikatakan berani. Orang yang istiqamah mempunyai keberanian untuk membela agama Allah tidak seperti orang munafik yang meragukan kekuatan Nabi Muhammad saw dan orang-orang Islam yang akan dibantu oleh Allah dengan kemenangan dan kejayaan. Allah SWT telah menjanjikan, bahwa setiap mukmin yang berjuang membela agama-Nya, akan dibantu dengan kekuatan dan kemenangan, yang telah jelas dalam Q.S. Al-Maidah : 52,
“Maka kamu akan melihat orang-orang yang ada penyakit dalam hatinya (orang-orang munafik) segera mendakati mereka (Yahudi dan Nasrani) seraya berkata, “Kami takut akan mendapat bencana”. Mudah-mudahan Allah akan mendatangkan kemenangan (kepada Rasul-Nya), atau sesuatu keputusan dari sisi-Nya. Maka karena itu mereka menyesal terhadap apa yang mereka rahasiakan dalam diri mereka.”
Kabar gembira “jangan bersedih”, dapat digambarkan sebagai ketentraman. Orang yang istiqamah akan mendapatkan ketentraman hati karena mereka mengingat Allah, dan taat dengan melakukan kebajikan. Firman Allah dalam Q.S. Ar-Ra’d : 28,
“(yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tentram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah-lah hidup menjadi tentram.”
Kabar gembira ini disampaikan kepada orang-orang beriman agar mereka istiqamah sehingga dapat menjalani hidup dengan optimis. Optimis terhadap kehidupan yang mereka jalani, karena mereka telah yakin atas janji Allah sebagaimana disebutkan dalam Q.S. An Nuur : 55.
“Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan mengerakan amal-amal yang saleh bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di muka bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridhai-Nya untuk mereka, dan Dia benar-benar akan menukar (keadaan) mereka, sesudah mereka dalam ketakutan menjadi aman sentosa. Mereka tetap menyembah-Ku dengan tiada mempersekutukan sesuatu apapun dengan Aku. Dan barang siapa yang (tetap) kafir sesudah (janji) itu, maka mereka itulah orang-orang yang fasik.”
Pada akhirnya Allah SWT memberikan kebahagiaan kepada mereka di dunia dan di akhirat. Mereka mendapatkan kebahagiaan di akhirat, yakni syurga. Allah SWT berfirman dalam Q.S. Ali-Imran : 185,
“Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Dan sesungguhnya pada hari kiamat sajalah disempurnakan pahalamu. Barangsiapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam syurga, maka sungguh ia telah beruntung. Kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdayakan.”
Wallahu ‘alam bis shawab...
Sumber:
Prayitno, Irwan. Kandungan Kalimat Syahadah. 18 Maret 2008. http://irwanprayitno.info/tarbiyah/1205808381-kandungan-kalimat-syahadat.htm
http://www.rumaisyo.com

Kenakalan Mereka adalah Perhatian

Pertama kali masuk ke sebuah ruangan kecil berisi kurang dari 30 orang siswa, ada yang berbeda. Ya, mereka sangat berbeda jika dibandingkan dengan pengalamanku ketika aku duduk di bangku sekolah. Penampilan mereka yang tidak rapi, perilaku mereka yang kurang sopan, sikap mereka yang cuek. Aku adalah guru muda yang baru mengajar di sekolah tersebut. Pengalaman mengajarku pun masih jauh dari kata "berpengalaman", maklum saja aku hanya terbiasa mengajar privat dengan jumlah murid 1 orang.
Setiap kali aku menjelaskan materi pelajaran, berbagai macam respon aku terima dari murid-murid spesialku ini. Ada yang sibuk sendiri, mengobrol dengan temannya, dan melakukan aktifitas lain yang lebih menyenangkan bagi mereka. Walaupun begitu, aku tetap bersyukur masih ada beberapa pasang mata dan telinga yang bersedia memperhatikan setiap kata-kataku.
Ada saja sikap mereka yang menyinggung perasaanku. Tidak memperhatikan, bermain hp, tidak mengerjakan tugas, keluar masuk kelas tanpa izin, membuat gaduh di kelas, dan tingkah-tingkah aneh yang membuatku harus selalu mengelus dada. Setiap kali selesai mengajar, ada saja rasa kesal, sedih, dan bingung. Perlu mengumpulkan energi yang cukup besar untuk menghadapi hari esok mengajar, menyiapkan diri untuk menghadapi tingkah-tingkah "aneh" mereka.
Minggu pertama, aku masih bersikap "sangat lembut" hingga pada minggu-minggu berikutnya aku tidak lagi mampu membendung kemarahanku atas setiap sikap mereka yang tidak menghargai keberadaanku sebagai guru mereka. Hingga pada suatu hari, kemarahanku pun terjadi di kelas. Suara lantangku memecah kegaduhan di kelas, membuat mereka terdiam dan mendengarkan kemarahanku serta melihat ekspresi wajahku yang mungkin tidak enak dipandang saat itu. Ada rasa penyesalan setelah itu, karena aku terlah bersikap kasar yang menurutku tidak seharusnya aku lakukan.
Setelah beberapa bulan aku mengajar dan berkomunikasi baik dengan murid maupun guru, akhirnya aku pun tahu bahwa sebenarnya kenakalan mereka adalah cara mereka untuk mendapatkan perhatian yang belum mereka dapatkan dari kedua orang tua mereka. Sebagian besar siswa yang bertingkah "aneh" berasal dari keluarga dengan kondisi orang tua yang kurang memperhatikan mereka. Orang tua yang sibuk dengan aktifitas mereka, dengan alasan mencari nafkah untuk memenuhi kebutuhan anak.
Sangat disayangkan, padahal mereka adalah anak-anak yang unik. Mereka mempunyai potensi untuk bisa menjadi orang yang lebih baik. Tapi hal itu tertutup oleh kenakalan-kenakalan mereka.