Syahadatain begitu berat diperjuangkan
oleh Nabi Muhammad saw dan para sahabat, bahkan mereka rela dan tidak takut
terhadap segala ancaman orang kafir. Misalnya Habib, sahabat Rasulullah yang
berani menghadapi siksaan yang dipotong tubuhnya satu per satu oleh Musailamah.
Bilal bin Rabah mampu bertahan menerima siksaan dihimpit batu besar pada siang
hari, dan beberapa deretan sahabat Rasulullah saw yang lainnya. Mereka
mempertahankan syahadatain dengan jiwa raga mereka.
Mayoritas umat Islam mengartikan syahadat
hanya sebatas ikrar, yang hanya diartikan sebagai pengakuan. Mengakui Tuhan
yang satu, yaitu Allah SWT dan Nabi Muhammad saw sebagai utusan Allah.
Pengakuan ini telah dinyatakan oleh
Allah SWT, para malaikat dan orang-orang yang berilmu sebagaimana
dijelaskan dalam Q.S. Ali-imran : 18,
“Allah menyatakan
bahwasanya tidak ada Tuhan melainkan Dia (yang berhak disembah), Yang
menegakkan keadilan. Para malaikat dan orang-orang yang berilmu (juga
menyatakan yang demikian itu). Tak ada Tuhan melainkan Dia (yang berhak
disembah), Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana”
Syahadah tidak
hanya mengandung arti ikrar saja, tapi juga mengandung arti sumpah dan
perjanjian. Sumpah dalam kamus bahasa Indonesia berarti pernyataan disertai tekad
melakukan sesuatu untuk menguatkan kebenaran atau janji yang teguh akan
menunaikan sesuatu, seperti dicontohkan dalam Q.S. An Nuur : 6 dan 8.
“Orang-orang yang
menuduh isterinya (berzina), padahal mereka tidak ada mempunyai saksi-saksi
selain diri mereka sendiri, maka persaksian orang itu ialah empat kali
bersumpah dengan nama Allah, sesungguhnya dia adalah termasuk orang-orang yang
benar” (Q.S. An Nuur : 6)
“Isterinya itu
dihindarkan dari hukuman oleh sumpahnya empat kali atas nama Allah sesungguhnya
suaminya itu benar-benar termasuk orang-orang yang dusta” (Q.S.
An Nuur : 8)
Akibat janji dan
sumpah ialah adanya perilaku untuk membenarkan pengakuan yang telah diikrarkan,
yakni beriman. Iman sebagai dasar dan juga hasil dari pengertian syahadah yang
betul. Iman merupakan pernyataan yang keluar dari mulut, juga diyakini oleh
hati dan diamalkan oleh perbuatan sebagai pengertian yang sebenarnya dari iman.
Apabila kita mengamalkan syahadat dan mendasarinya dengan iman yang konsisten
dan istiqamah, maka beberapa hasil akan dirasakan seperti keberanian,
ketenangan dan optimis menjalani kehidupan.
Istiqamah ialah menempuh jalan
(agama) yang lurus (benar) dengan tidak berpaling ke kiri maupun ke kanan.
Istiqomah ini mencakup pelaksanaan semua bentuk ketaatan (kepada Allah) lahir
dan batin, dan meninggalkan semua bentuk larangan-Nya. Inilah pengertian
istiqomah yang disebutkan oleh Ibnu Rajab Al Hambali.
Di antara ayat yang menyebutkan keutamaan
istiqomah adalah firman Allah Ta’ala,
“Sesungguhnya
orang-orang yang mengatakan: "Rabb kami ialah Allah" kemudian mereka
istiqomah pada pendirian mereka, maka malaikat akan turun kepada mereka (dengan
mengatakan): "Janganlah kamu merasa takut dan janganlah kamu merasa sedih;
dan bergembiralah kamu dengan (memperoleh) surga yang telah dijanjikan Allah
kepadamu".” (QS. Fushilat: 30)
Ayat di atas menceritakan bahwa orang yang
istiqomah dan teguh di atas tauhid dan ketaatan, maka malaikat pun akan memberi
kabar gembira padanya ketika maut menjemput, “Janganlah takut dan janganlah
bersedih”. Zaid bin Aslam mengatakan bahwa kabar gembira di sini bukan
hanya dikatakan ketika maut menjemput, namun juga ketika di alam kubur dan
ketika hari berbangkit. Inilah yang menunjukkan keutamaan seseorang yang bisa
istiqomah.
Kabar gembira “janganlah takut”,
dapat juga dikatakan berani. Orang yang istiqamah mempunyai keberanian untuk membela
agama Allah tidak seperti orang munafik yang meragukan kekuatan Nabi Muhammad
saw dan orang-orang Islam yang akan dibantu oleh Allah dengan kemenangan dan
kejayaan. Allah SWT telah menjanjikan, bahwa setiap mukmin yang berjuang
membela agama-Nya, akan dibantu dengan kekuatan dan kemenangan, yang telah
jelas dalam Q.S. Al-Maidah : 52,
“Maka kamu akan
melihat orang-orang yang ada penyakit dalam hatinya (orang-orang munafik)
segera mendakati mereka (Yahudi dan Nasrani) seraya berkata, “Kami takut akan
mendapat bencana”. Mudah-mudahan Allah akan mendatangkan kemenangan (kepada
Rasul-Nya), atau sesuatu keputusan dari sisi-Nya. Maka karena itu mereka
menyesal terhadap apa yang mereka rahasiakan dalam diri mereka.”
Kabar gembira “jangan bersedih”,
dapat digambarkan sebagai ketentraman. Orang yang istiqamah akan mendapatkan
ketentraman hati karena mereka mengingat Allah, dan taat dengan melakukan kebajikan.
Firman Allah dalam Q.S. Ar-Ra’d : 28,
“(yaitu)
orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tentram dengan mengingat
Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah-lah hidup menjadi tentram.”
Kabar gembira ini disampaikan kepada
orang-orang beriman agar mereka istiqamah sehingga dapat menjalani hidup dengan
optimis. Optimis terhadap kehidupan yang mereka jalani, karena mereka telah
yakin atas janji Allah sebagaimana disebutkan dalam Q.S. An Nuur : 55.
“Dan Allah telah
berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan mengerakan amal-amal
yang saleh bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di muka
bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa, dan
sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridhai-Nya untuk mereka,
dan Dia benar-benar akan menukar (keadaan) mereka, sesudah mereka dalam
ketakutan menjadi aman sentosa. Mereka tetap menyembah-Ku dengan tiada
mempersekutukan sesuatu apapun dengan Aku. Dan barang siapa yang (tetap) kafir
sesudah (janji) itu, maka mereka itulah orang-orang yang fasik.”
Pada akhirnya Allah SWT memberikan
kebahagiaan kepada mereka di dunia dan di akhirat. Mereka mendapatkan
kebahagiaan di akhirat, yakni syurga. Allah SWT berfirman dalam Q.S. Ali-Imran
: 185,
“Tiap-tiap yang
berjiwa akan merasakan mati. Dan sesungguhnya pada hari kiamat sajalah
disempurnakan pahalamu. Barangsiapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke
dalam syurga, maka sungguh ia telah beruntung. Kehidupan dunia itu tidak lain
hanyalah kesenangan yang memperdayakan.”
Wallahu ‘alam bis shawab...
Sumber:
Prayitno, Irwan. Kandungan Kalimat
Syahadah. 18 Maret 2008. http://irwanprayitno.info/tarbiyah/1205808381-kandungan-kalimat-syahadat.htm
http://www.rumaisyo.com
Tidak ada komentar:
Posting Komentar