Terkejut, ketika seorang teman memperlihatkan selembar kertas berisi data jam mengajar. Surat tentang pembagian peran dan tugas guru. Ada yang tidak sesuai, namaku seharusnya tertera dengan jumlah jam mengajar 16 jam, tapi dalam lembar itu hanya 8 jam. Pertanyaanpun muncul, "kemana 8 jam lagi??". Temanku menunjukkan ada nama seseorang yang sebenarnya tidak pernah mengajar. Namanya dicantumkan dan tertera dia mengajar 8 jam. Ingin rasanya protes, dan ada rasa marah, kecewa, sedih. Tempat mengajar yang kupikir berbeda sejak awal, ternyata memang "berbeda" dari prasangkaku. Banyak kutemukan kecurangan setelah beberapa bulan aku terlibat di sana.
Sangat mengecewakan memang, lembaga pendidikan sebagai tempat menempa generasi penerus bangsa ternyata tidak memberikan contoh yang baik. Tidak heran rasanya, jika bangsa ini terus dan terus menjadi bangsa yang korup.
Terbersit dalam hati pertanyaan, "apa yang bisa saya lakukan, melihat kemaksiatan yang terjadi? Tidak ada kekuasaan untuk melarangnya, tidak ada tempat untuk berbicara, dan hanya mampu berdoa semoga disadarkan atas kesalahannya."
Sedih rasanya, berada dalam lingkungan yang tidak menjunjung tinggi nilai kejujuran. Kejujuran yang seharusnya diterapkan di setiap tempat dan waktu. Kejujuran yang seharusnya diajarkan dan dicontohkan dimanapun tempatnya. Namun, fakta berbicara bahwa kejujuran harus dibayar dengan banyak pengorbanan. Pegawai yang jujur harus bersiap untuk dipecat suatu saat dengan tidak hormat. Guru yang jujur harus berhadapan dengan argumen-argumen yang sangat mengusik hati dari para rekan-rekannya yang lebih mengutamakan "pendapatan" dan kelulusan peserta didik bukan karakter peserta didik.
Sadarkah teman, pengorbanan yang begitu besar sangatlah berarti dalam penilaian Allah SWT selama berkorban dalam menegakkan nilai-nilai kebenaran.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar