Rabu, 29 Februari 2012

Kandungan Kalimat Syahadat


Syahadatain begitu berat diperjuangkan oleh Nabi Muhammad saw dan para sahabat, bahkan mereka rela dan tidak takut terhadap segala ancaman orang kafir. Misalnya Habib, sahabat Rasulullah yang berani menghadapi siksaan yang dipotong tubuhnya satu per satu oleh Musailamah. Bilal bin Rabah mampu bertahan menerima siksaan dihimpit batu besar pada siang hari, dan beberapa deretan sahabat Rasulullah saw yang lainnya. Mereka mempertahankan syahadatain dengan jiwa raga mereka.
Mayoritas umat Islam mengartikan syahadat hanya sebatas ikrar, yang hanya diartikan sebagai pengakuan. Mengakui Tuhan yang satu, yaitu Allah SWT dan Nabi Muhammad saw sebagai utusan Allah. Pengakuan ini telah dinyatakan oleh  Allah SWT, para malaikat dan orang-orang yang berilmu sebagaimana dijelaskan dalam Q.S. Ali-imran : 18,
“Allah menyatakan bahwasanya tidak ada Tuhan melainkan Dia (yang berhak disembah), Yang menegakkan keadilan. Para malaikat dan orang-orang yang berilmu (juga menyatakan yang demikian itu). Tak ada Tuhan melainkan Dia (yang berhak disembah), Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana”
Syahadah tidak hanya mengandung arti ikrar saja, tapi juga mengandung arti sumpah dan perjanjian. Sumpah dalam kamus bahasa Indonesia berarti pernyataan disertai tekad melakukan sesuatu untuk menguatkan kebenaran atau janji yang teguh akan menunaikan sesuatu, seperti dicontohkan dalam Q.S. An Nuur : 6 dan 8.
“Orang-orang yang menuduh isterinya (berzina), padahal mereka tidak ada mempunyai saksi-saksi selain diri mereka sendiri, maka persaksian orang itu ialah empat kali bersumpah dengan nama Allah, sesungguhnya dia adalah termasuk orang-orang yang benar” (Q.S. An Nuur : 6)
“Isterinya itu dihindarkan dari hukuman oleh sumpahnya empat kali atas nama Allah sesungguhnya suaminya itu benar-benar termasuk orang-orang yang dusta” (Q.S. An Nuur : 8)
Akibat janji dan sumpah ialah adanya perilaku untuk membenarkan pengakuan yang telah diikrarkan, yakni beriman. Iman sebagai dasar dan juga hasil dari pengertian syahadah yang betul. Iman merupakan pernyataan yang keluar dari mulut, juga diyakini oleh hati dan diamalkan oleh perbuatan sebagai pengertian yang sebenarnya dari iman. Apabila kita mengamalkan syahadat dan mendasarinya dengan iman yang konsisten dan istiqamah, maka beberapa hasil akan dirasakan seperti keberanian, ketenangan dan optimis menjalani kehidupan.
Istiqamah ialah menempuh jalan (agama) yang lurus (benar) dengan tidak berpaling ke kiri maupun ke kanan. Istiqomah ini mencakup pelaksanaan semua bentuk ketaatan (kepada Allah) lahir dan batin, dan meninggalkan semua bentuk larangan-Nya. Inilah pengertian istiqomah yang disebutkan oleh Ibnu Rajab Al Hambali.

 Di antara ayat yang menyebutkan keutamaan istiqomah adalah firman Allah Ta’ala,
Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: "Rabb kami ialah Allah" kemudian mereka istiqomah pada pendirian mereka, maka malaikat akan turun kepada mereka (dengan mengatakan): "Janganlah kamu merasa takut dan janganlah kamu merasa sedih; dan bergembiralah kamu dengan (memperoleh) surga yang telah dijanjikan Allah kepadamu".” (QS. Fushilat: 30)
Ayat di atas menceritakan bahwa orang yang istiqomah dan teguh di atas tauhid dan ketaatan, maka malaikat pun akan memberi kabar gembira padanya ketika maut menjemput, “Janganlah takut dan janganlah bersedih”. Zaid bin Aslam mengatakan bahwa kabar gembira di sini bukan hanya dikatakan ketika maut menjemput, namun juga ketika di alam kubur dan ketika hari berbangkit. Inilah yang menunjukkan keutamaan seseorang yang bisa istiqomah.
Kabar gembira “janganlah takut”, dapat juga dikatakan berani. Orang yang istiqamah mempunyai keberanian untuk membela agama Allah tidak seperti orang munafik yang meragukan kekuatan Nabi Muhammad saw dan orang-orang Islam yang akan dibantu oleh Allah dengan kemenangan dan kejayaan. Allah SWT telah menjanjikan, bahwa setiap mukmin yang berjuang membela agama-Nya, akan dibantu dengan kekuatan dan kemenangan, yang telah jelas dalam Q.S. Al-Maidah : 52,
“Maka kamu akan melihat orang-orang yang ada penyakit dalam hatinya (orang-orang munafik) segera mendakati mereka (Yahudi dan Nasrani) seraya berkata, “Kami takut akan mendapat bencana”. Mudah-mudahan Allah akan mendatangkan kemenangan (kepada Rasul-Nya), atau sesuatu keputusan dari sisi-Nya. Maka karena itu mereka menyesal terhadap apa yang mereka rahasiakan dalam diri mereka.”
Kabar gembira “jangan bersedih”, dapat digambarkan sebagai ketentraman. Orang yang istiqamah akan mendapatkan ketentraman hati karena mereka mengingat Allah, dan taat dengan melakukan kebajikan. Firman Allah dalam Q.S. Ar-Ra’d : 28,
“(yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tentram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah-lah hidup menjadi tentram.”
Kabar gembira ini disampaikan kepada orang-orang beriman agar mereka istiqamah sehingga dapat menjalani hidup dengan optimis. Optimis terhadap kehidupan yang mereka jalani, karena mereka telah yakin atas janji Allah sebagaimana disebutkan dalam Q.S. An Nuur : 55.
“Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan mengerakan amal-amal yang saleh bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di muka bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridhai-Nya untuk mereka, dan Dia benar-benar akan menukar (keadaan) mereka, sesudah mereka dalam ketakutan menjadi aman sentosa. Mereka tetap menyembah-Ku dengan tiada mempersekutukan sesuatu apapun dengan Aku. Dan barang siapa yang (tetap) kafir sesudah (janji) itu, maka mereka itulah orang-orang yang fasik.”
Pada akhirnya Allah SWT memberikan kebahagiaan kepada mereka di dunia dan di akhirat. Mereka mendapatkan kebahagiaan di akhirat, yakni syurga. Allah SWT berfirman dalam Q.S. Ali-Imran : 185,
“Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Dan sesungguhnya pada hari kiamat sajalah disempurnakan pahalamu. Barangsiapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam syurga, maka sungguh ia telah beruntung. Kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdayakan.”
Wallahu ‘alam bis shawab...
Sumber:
Prayitno, Irwan. Kandungan Kalimat Syahadah. 18 Maret 2008. http://irwanprayitno.info/tarbiyah/1205808381-kandungan-kalimat-syahadat.htm
http://www.rumaisyo.com

Kenakalan Mereka adalah Perhatian

Pertama kali masuk ke sebuah ruangan kecil berisi kurang dari 30 orang siswa, ada yang berbeda. Ya, mereka sangat berbeda jika dibandingkan dengan pengalamanku ketika aku duduk di bangku sekolah. Penampilan mereka yang tidak rapi, perilaku mereka yang kurang sopan, sikap mereka yang cuek. Aku adalah guru muda yang baru mengajar di sekolah tersebut. Pengalaman mengajarku pun masih jauh dari kata "berpengalaman", maklum saja aku hanya terbiasa mengajar privat dengan jumlah murid 1 orang.
Setiap kali aku menjelaskan materi pelajaran, berbagai macam respon aku terima dari murid-murid spesialku ini. Ada yang sibuk sendiri, mengobrol dengan temannya, dan melakukan aktifitas lain yang lebih menyenangkan bagi mereka. Walaupun begitu, aku tetap bersyukur masih ada beberapa pasang mata dan telinga yang bersedia memperhatikan setiap kata-kataku.
Ada saja sikap mereka yang menyinggung perasaanku. Tidak memperhatikan, bermain hp, tidak mengerjakan tugas, keluar masuk kelas tanpa izin, membuat gaduh di kelas, dan tingkah-tingkah aneh yang membuatku harus selalu mengelus dada. Setiap kali selesai mengajar, ada saja rasa kesal, sedih, dan bingung. Perlu mengumpulkan energi yang cukup besar untuk menghadapi hari esok mengajar, menyiapkan diri untuk menghadapi tingkah-tingkah "aneh" mereka.
Minggu pertama, aku masih bersikap "sangat lembut" hingga pada minggu-minggu berikutnya aku tidak lagi mampu membendung kemarahanku atas setiap sikap mereka yang tidak menghargai keberadaanku sebagai guru mereka. Hingga pada suatu hari, kemarahanku pun terjadi di kelas. Suara lantangku memecah kegaduhan di kelas, membuat mereka terdiam dan mendengarkan kemarahanku serta melihat ekspresi wajahku yang mungkin tidak enak dipandang saat itu. Ada rasa penyesalan setelah itu, karena aku terlah bersikap kasar yang menurutku tidak seharusnya aku lakukan.
Setelah beberapa bulan aku mengajar dan berkomunikasi baik dengan murid maupun guru, akhirnya aku pun tahu bahwa sebenarnya kenakalan mereka adalah cara mereka untuk mendapatkan perhatian yang belum mereka dapatkan dari kedua orang tua mereka. Sebagian besar siswa yang bertingkah "aneh" berasal dari keluarga dengan kondisi orang tua yang kurang memperhatikan mereka. Orang tua yang sibuk dengan aktifitas mereka, dengan alasan mencari nafkah untuk memenuhi kebutuhan anak.
Sangat disayangkan, padahal mereka adalah anak-anak yang unik. Mereka mempunyai potensi untuk bisa menjadi orang yang lebih baik. Tapi hal itu tertutup oleh kenakalan-kenakalan mereka.