Assalamu'alaikum Wr. Wb.
Waktu terus berjalan tanpa terasa, hingga akhirnya Allah mempertemukan kita dengan cara-Nya yang tanpa diduga. Perkenalan, pertemuan, perbincangan yang sudah tercatat indah dalam skenario-Nya hingga pada akhirnya tanpa deklarasi kita telah menjadi sahabat. Tanpa adanya pengakuan secara lisan dari masing-masing, kita telah menjadi sahabat. Hubungan yang lebih dari sekedar teman, saling mencintai dan peduli dengan sesama seperti saudara. Ketika kau sedih maka aku pun ikut sedih, ketika kau bahagia aku pun ikut bahagia begitu pun denganmu.
Detik terus berjalan, hingga suatu saat kau berubah. Ada yang kau sembunyikan, ada yang kau rasakan namun kau bungkam padaku. Setiap kali aku bertanya, "Kenapa?? Apa yang terjadi??" jawabmu hanya senyum dan berkata, "Ga apa-apa, saya baik-baik aja.". Benarkah itu??? tanyaku dalam hati, namun aku percaya kau selalu berkata jujur. Ternyata aku salah, benar-benar salah. Kau menyembunyikan sesuatu, tapi aku tetap mengerti dengan berprasangka bahwa itu adalah masalah pribadimu yang tak bisa kau bagi dengan denganku. Sekali lagi aku salah, kau membaginya dengan caramu.
Suatu siang dibulan yang mulia, akhirnya aku tau bahwa kau pernah berprasangka buruk padaku namun tetap saja aku tidak tau prasangka apa yang kau tuduhkan padaku. Kau pun hanya sekedar bercerita layaknya seorang nara sumber yang menjawab pertanyaan, menjawab dan memberikan pernyataan yang kau anggap perlu. Aku tetap bersyukur, karena aku menjadi lebih tenang.
Sekali lagi aku salah, kau tetap murung sikapmu pun berubah padaku. Tak apa, mungkin kau sedang dalam masa yang sulit dan belum mau cerita. Sekali lagi aku salah. Ternyata aku memang tidak memahamimu, aku tidak tau apa yang kau inginkan, aku tidak tau apa yang kau rasakan.
Hal yang tak terduga pun terjadi. Ku baca apa yang telah kau tulis, ku baca berkali-kali untuk meyakinkan diriku. Kau merasa ditinggalkan, itu yang aku simpulkan dari rankaian kata yang kau buat. Hatiku terasa sangat sakit. Keberadaanku selama ini, pertanyaanku selama ini ternyata tidak berarti bagimu karena kau merasa sendiri dalam skenario yang sulit dan penuh ujian.
Biarlah air mata ini terus berjatuhan agar dapat menutupi luka hati yang telah terjadi. Biarlah mata ini terus mengeluarkan butiran jernih hingga hati ini dapat terobati. Dan telah kuputuskan, aku tidak akan lagi banyak bertanya tentangmu, aku tidak akan lagi selalu berada disisimu, aku tidak akan lagi menjadi orang yang berharga untukmu. Aku adalah orang biasa, teman biasa, saudara biasa dan aku hanya mampu menjadi bagian kecil yang tidak berarti bagi kisahmu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar