Indonesia
merupakan Negara yang kaya dengan aneka sumber daya alam, juga kebudayaan yang
beraneka ragam dari setiap wilayah di Indonesia. Kekayaan tersebut dapat
menjadi modal utama bagi bangsa ini untuk membangun perekonomiannya yang sedang
terpuruk. Keterpurukan yang tampak dari banyaknya penduduk usia angkatan kerja
yang tak memperoleh kesempatan bekerja sehingga dapat memicu meningkatnya
jumlah keluarga miskin.
Sejak
dulu Indonesia terkenal sebagai Negara agraris. Sebagian besar penduduknya
bermata pencaharian sebagai petani. Namun seiring dengan perkembangan zaman dan
teknologi, perlahan status tersebut mulai bergeser. Lahan pertanian semakin
berkurang berganti dengan gedung-gedung pabrik tempat produksi atau telah
berganti dengan gedung-gedung bertingkat tempat bekerja para karyawan suatu perusahaan.
Peran manusia pun mulai tergantikan dengan mesin yang semakin ditingkatkan
manfaatnya untuk lebih menghemat biaya produksi. Keadaan tersebut dapat memicu
meningkatnya jumlah pengangguran di Indonesia, karena lapangan pekerjaan yang
tersedia tidak terus meningkat seiring dengan meningkatnya angka penduduk
angkatan kerja.
Masalah
tersebut dapat diatasi hanya dengan membuka lapangan pekerjaan yang dapat
menyerap banyak angkatan kerja. Membuka perusahaan padat karya pernah
dilakukan, namun tidak dapat menampung banyaknya angkatan kerja yang ada dan
terus bertambah setiap tahun. Hal ini membuktikan bahwa, menciptakan lapangan
kerja hanya dari satu pihak saja tidak akan dapat mengurangi angka pengangguran
dengan pasti. Selain pemerintah, perlu adanya masyarakat yang juga membuka
lapangan pekerjaan yaitu dengan cara berwirausaha. Kewirausahaan merupakan
solusi yang diyakini mampu mengatasi masalah pengangguran.
Kewirausahaan
dapat menciptakan lapangan pekerjaan baru dan orang yang berwirausaha pun telah
membantu dirinya sendiri untuk mendapatkan perkerjaan. Tetapi tidak semua orang
mampu untuk menjadi wirausaha karena tidak mempunyai jiwa sebagai seorang
wirausahawan. Seorang wirausaha harus memiliki sikap ulet, semangat pantang
menyerah yang dibarengi rasa percaya diri dan keberanian mengolah resiko[1].
Membangun jiwa dan sikap wirausaha tersebut membutuhkan waktu yang tidak
singkat dan membutuhkan proses yang panjang. Proses tersebut dapat dilakukan
sejak dini melalui pendidikan.
Pendidikan
berperan untuk mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban
bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa[2].
Dengan demikian membangun sikap dan jiwa kewirausahaan dapat dilakukan sejak
dini melalui pendidikan, baik pendidikan formal, non formal maupun pendidikan
informal. Dalam hal ini penulis memberikan solusi pengembangan jiwa
kewirausahaan melalui pendidikan formal, yakni sejak pendidikan dasar pada
jenjang sekolah dasar.
Pada
jenjang sekolah dasar, guru dapat mulai menanamkan nilai kejujuran, menumbuhkan
rasa percaya diri siswa, dan memotivasi siswa agar tekun dan ulet dalam
berusaha terutama dalam belajar. Nilai-nilai tersebut dapat ditanamkan oleh
guru dengan menerapkan metode-metode pembelajaran yang dapat merangsang
perkembangan nilai-nilai tersebut pada siswa. Sudah banyak penelitian yang
dilakukan mengenai metode—metode pembelajaran yang dapat dijadikan referensi
bagi guru untuk terus mengembangkan teknik pembelajaran yang dilakukan. Salah
satu teknik pembelajaran yang dapat mengembangkan jiwa wirausaha ialah belajar
mandiri.
Belajar
mandiri ialah memposisikan pembelajar sebagai subyek, pemegang kendali dan
pengambil keputusan. Guru berperan sebagai tutor atau instruktur siswa yakni
hanya berfungsi sebagai fasilitator. Cara terbaik tutor atau instruktur
memfasilitasi pembelajaran mandiri ialah[3]:
1. Membantu
pembelajar mengidentifikasi cara-cara mengawali suatu proyek belajar berikut
cara memeriksa dan melaporkannya.
2. Mengasosiasikan
kontrak belajar.
3. Menjadi
manajer pengalaman belajar dan hindarkan menjadi pemberi informasi
4. Membantu
pembelajar menemukan teknik penilaian.
5. Memastikan
bahwa pembelajar menyadari tujuan belajar, strategi belajar, sumber-sumber
belajar.
6. Mengajarkan
keterampilan inqury, pengambilan keputusan, pengembangan diri dan cara
evaluasi.
7. Membantu
mencocokkan sumber belajar dengan kebutuhan pembelajar.
8. Membantu
pembelajar membangun sikap dan perasaan mandiri yang kreatif positif bagi
belajarnnya.
9. Menggunakan
teknik-teknik yang dapat memperkaya pengalaman.
10. Mengembangkan
panduan belajar yang bermutu tinggi.
11. Mendorong
kemampuan pembelajar untuk berpikir kritis.
12. Menciptakan
iklim keterbukaan dan kepercayaan untuk meningkatkan kinerja.
13. Membantu
pembelajar dari segala bentuk manipulasi dengan cara menjunjung tinggi kode
etik.
14. Berperilaku
secara etis.
Penerapan
teknik belajar mandiri dapat membangun kemandirian siswa, terutama dalam hal
pengambilan keputusan. Dengan demikian, siswa sudah terbiasa untuk mengambil
keputusan dengan melakukan berbagai pertimbangan sebagaimana yang diarahkan
oleh instrukturnya dalam hal ini ialah gurunya. Selain itu, siswa juga dapat
terbiasa untuk melakukan evaluasi atas setiap hal yang telah dilakukannya.
Evaluasi diri ini dapat memicu siswa untuk terus melakuan perbaikan dan melatih
siswa untuk berani jujur pada diri sendiri untuk melihat kekurangan dan
kesalahan diri sendiri. Kemampuan-kemampuan tersebut merupakan bagian dari
sikap wirausaha yang harus dimiliki.
Jiwa
wirausaha yang dibangun haruslah berbasis pada potensi lokal. Setiap wilayah di
Indonesia memiliki potensi dan keunggulan yang berbeda satu sama lain. Sehingga
pengembangan yang dilakukan pun berbeda. Seorang wirausaha ialah orang yang
mampu melihat peluang dan kesempatan walaupun dalam masalah yang sedang ia
hadapi. Kekayaan alam dan keragaman kebudayaan di Indonesia dapat menjadi
masalah bagi bangsa ini jika tidak disikapi dengan bijak. Sikap untuk memahami
bahwa perbedaan itu indah, bangga akan kebudayaan daerah dan dapat mengolah
kekayaan alam dengan baik tanpa merusaknya.
Pengembangan
jiwa wirausaha berbasis lokal melalui pendidikan dapat dilakukan dengan adanya
pelajaran mulok (muatan lokal) yang berbasis kewirausahaan. Mulok merupakan
kegiatan kurikuler untuk mengembangkan kompetensi yang disesuaikan dengan cirri
khas, potensi dan keunggulan daerah yang materinya tidak dapat dikelompokkan ke
dalam mata pelajaran yang ada, sehingga substansinya dapat ditentukan oleh
satuan pendidikan dan tidak terbatas pada mata pelajaran keterampilan. Pengembangan
mulok disesuaikan dengan kondisi satuan pendidikan dan kebutuhan daerah tempat
satuan pendidikan tersebut. Pengembangan yang dilakukan haruslah berorientasi
pada pembentukan wirausaha-wirausaha baru yang muncul baik ketika masih duduk
di bangku sekolah maupun setelah lulus.
Mulok yang dikembangkan dapat berupa kebudayaan
daerah atau keunggulan daerah, seperti batik, pembuatan makanan atau minuman
khas daerah, penguasaan ornament, pengembangan wisata, pengembangan pengolahan
hasil laut dan lain sebagainya. Dengan demikian setiap standar kompetensi dan
kompetensi dasar yang dikembangkan dapat mengarah pada pelaksanaan mata
pelajaran mulok yang berbasis wirausaha dengan pendekatan belajar mandiri.
[1]
Tim edukasi.net. Sikap dan Jiwa Wirausaha. http://www.e-dukasi.net/mapok/mp_full.php?id=183&fname=materi4.html
[2]
UU No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional Pasal 3
[3]
Chaeruman, Uwes A. Prinsip Pembelajaran dengan Sistem Belajar Mandiri.
2007. http://fakultasluarkampus.net/2007/07/prinsip-pembelajaran-dengan-sistem-belajar-mandiri/
INGIN MERASAKAN KEMENANGAN DI DALAM BERMAIN TOGEL TLP KI ANGEN JALLO DI NMR (_0_8_5_2_8_3_7_9_0_4_4_4_) JIKA INGIN MENGUBAH NASIB KAMI SUDAH 7X TERBUKTI TRIM’S ROO,MX SOBAT
BalasHapusINGIN MERASAKAN KEMENANGAN DI DALAM BERMAIN TOGEL TLP KI ANGEN JALLO DI NMR (_0_8_5_2_8_3_7_9_0_4_4_4_) JIKA INGIN MENGUBAH NASIB KAMI SUDAH 7X TERBUKTI TRIM’S ROO,MX SOBAT
makasih yah
BalasHapusjudi bola online | tangki timbun cpo | SenangPoker.com Agen Judi Poker Online Terpercaya Indonesia