Sabtu, 13 Oktober 2012

Mengembangkan Jiwa Kewirausahaan Melalui Mata Pelajaran Mulok dengan Pendekatan Belajar Mandiri


Indonesia merupakan Negara yang kaya dengan aneka sumber daya alam, juga kebudayaan yang beraneka ragam dari setiap wilayah di Indonesia. Kekayaan tersebut dapat menjadi modal utama bagi bangsa ini untuk membangun perekonomiannya yang sedang terpuruk. Keterpurukan yang tampak dari banyaknya penduduk usia angkatan kerja yang tak memperoleh kesempatan bekerja sehingga dapat memicu meningkatnya jumlah keluarga miskin.
Sejak dulu Indonesia terkenal sebagai Negara agraris. Sebagian besar penduduknya bermata pencaharian sebagai petani. Namun seiring dengan perkembangan zaman dan teknologi, perlahan status tersebut mulai bergeser. Lahan pertanian semakin berkurang berganti dengan gedung-gedung pabrik tempat produksi atau telah berganti dengan gedung-gedung bertingkat tempat bekerja para karyawan suatu perusahaan. Peran manusia pun mulai tergantikan dengan mesin yang semakin ditingkatkan manfaatnya untuk lebih menghemat biaya produksi. Keadaan tersebut dapat memicu meningkatnya jumlah pengangguran di Indonesia, karena lapangan pekerjaan yang tersedia tidak terus meningkat seiring dengan meningkatnya angka penduduk angkatan kerja.
Masalah tersebut dapat diatasi hanya dengan membuka lapangan pekerjaan yang dapat menyerap banyak angkatan kerja. Membuka perusahaan padat karya pernah dilakukan, namun tidak dapat menampung banyaknya angkatan kerja yang ada dan terus bertambah setiap tahun. Hal ini membuktikan bahwa, menciptakan lapangan kerja hanya dari satu pihak saja tidak akan dapat mengurangi angka pengangguran dengan pasti. Selain pemerintah, perlu adanya masyarakat yang juga membuka lapangan pekerjaan yaitu dengan cara berwirausaha. Kewirausahaan merupakan solusi yang diyakini mampu mengatasi masalah pengangguran.
Kewirausahaan dapat menciptakan lapangan pekerjaan baru dan orang yang berwirausaha pun telah membantu dirinya sendiri untuk mendapatkan perkerjaan. Tetapi tidak semua orang mampu untuk menjadi wirausaha karena tidak mempunyai jiwa sebagai seorang wirausahawan. Seorang wirausaha harus memiliki sikap ulet, semangat pantang menyerah yang dibarengi rasa percaya diri dan keberanian mengolah resiko[1]. Membangun jiwa dan sikap wirausaha tersebut membutuhkan waktu yang tidak singkat dan membutuhkan proses yang panjang. Proses tersebut dapat dilakukan sejak dini melalui pendidikan.
Pendidikan berperan untuk mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa[2]. Dengan demikian membangun sikap dan jiwa kewirausahaan dapat dilakukan sejak dini melalui pendidikan, baik pendidikan formal, non formal maupun pendidikan informal. Dalam hal ini penulis memberikan solusi pengembangan jiwa kewirausahaan melalui pendidikan formal, yakni sejak pendidikan dasar pada jenjang sekolah dasar.
Pada jenjang sekolah dasar, guru dapat mulai menanamkan nilai kejujuran, menumbuhkan rasa percaya diri siswa, dan memotivasi siswa agar tekun dan ulet dalam berusaha terutama dalam belajar. Nilai-nilai tersebut dapat ditanamkan oleh guru dengan menerapkan metode-metode pembelajaran yang dapat merangsang perkembangan nilai-nilai tersebut pada siswa. Sudah banyak penelitian yang dilakukan mengenai metode—metode pembelajaran yang dapat dijadikan referensi bagi guru untuk terus mengembangkan teknik pembelajaran yang dilakukan. Salah satu teknik pembelajaran yang dapat mengembangkan jiwa wirausaha ialah belajar mandiri.
Belajar mandiri ialah memposisikan pembelajar sebagai subyek, pemegang kendali dan pengambil keputusan. Guru berperan sebagai tutor atau instruktur siswa yakni hanya berfungsi sebagai fasilitator. Cara terbaik tutor atau instruktur memfasilitasi pembelajaran mandiri ialah[3]:
1.      Membantu pembelajar mengidentifikasi cara-cara mengawali suatu proyek belajar berikut cara memeriksa dan melaporkannya.
2.      Mengasosiasikan kontrak belajar.
3.      Menjadi manajer pengalaman belajar dan hindarkan menjadi pemberi informasi
4.      Membantu pembelajar menemukan teknik penilaian.
5.      Memastikan bahwa pembelajar menyadari tujuan belajar, strategi belajar, sumber-sumber belajar.
6.      Mengajarkan keterampilan inqury, pengambilan keputusan, pengembangan diri dan cara evaluasi.
7.      Membantu mencocokkan sumber belajar dengan kebutuhan pembelajar.
8.      Membantu pembelajar membangun sikap dan perasaan mandiri yang kreatif positif bagi belajarnnya.
9.      Menggunakan teknik-teknik yang dapat memperkaya pengalaman.
10.  Mengembangkan panduan belajar yang bermutu tinggi.
11.  Mendorong kemampuan pembelajar untuk berpikir kritis.
12.  Menciptakan iklim keterbukaan dan kepercayaan untuk meningkatkan kinerja.
13.  Membantu pembelajar dari segala bentuk manipulasi dengan cara menjunjung tinggi kode etik.
14.  Berperilaku secara etis.
Penerapan teknik belajar mandiri dapat membangun kemandirian siswa, terutama dalam hal pengambilan keputusan. Dengan demikian, siswa sudah terbiasa untuk mengambil keputusan dengan melakukan berbagai pertimbangan sebagaimana yang diarahkan oleh instrukturnya dalam hal ini ialah gurunya. Selain itu, siswa juga dapat terbiasa untuk melakukan evaluasi atas setiap hal yang telah dilakukannya. Evaluasi diri ini dapat memicu siswa untuk terus melakuan perbaikan dan melatih siswa untuk berani jujur pada diri sendiri untuk melihat kekurangan dan kesalahan diri sendiri. Kemampuan-kemampuan tersebut merupakan bagian dari sikap wirausaha yang harus dimiliki.
Jiwa wirausaha yang dibangun haruslah berbasis pada potensi lokal. Setiap wilayah di Indonesia memiliki potensi dan keunggulan yang berbeda satu sama lain. Sehingga pengembangan yang dilakukan pun berbeda. Seorang wirausaha ialah orang yang mampu melihat peluang dan kesempatan walaupun dalam masalah yang sedang ia hadapi. Kekayaan alam dan keragaman kebudayaan di Indonesia dapat menjadi masalah bagi bangsa ini jika tidak disikapi dengan bijak. Sikap untuk memahami bahwa perbedaan itu indah, bangga akan kebudayaan daerah dan dapat mengolah kekayaan alam dengan baik tanpa merusaknya.
Pengembangan jiwa wirausaha berbasis lokal melalui pendidikan dapat dilakukan dengan adanya pelajaran mulok (muatan lokal) yang berbasis kewirausahaan. Mulok merupakan kegiatan kurikuler untuk mengembangkan kompetensi yang disesuaikan dengan cirri khas, potensi dan keunggulan daerah yang materinya tidak dapat dikelompokkan ke dalam mata pelajaran yang ada, sehingga substansinya dapat ditentukan oleh satuan pendidikan dan tidak terbatas pada mata pelajaran keterampilan. Pengembangan mulok disesuaikan dengan kondisi satuan pendidikan dan kebutuhan daerah tempat satuan pendidikan tersebut. Pengembangan yang dilakukan haruslah berorientasi pada pembentukan wirausaha-wirausaha baru yang muncul baik ketika masih duduk di bangku sekolah maupun setelah lulus.
Mulok yang dikembangkan dapat berupa kebudayaan daerah atau keunggulan daerah, seperti batik, pembuatan makanan atau minuman khas daerah, penguasaan ornament, pengembangan wisata, pengembangan pengolahan hasil laut dan lain sebagainya. Dengan demikian setiap standar kompetensi dan kompetensi dasar yang dikembangkan dapat mengarah pada pelaksanaan mata pelajaran mulok yang berbasis wirausaha dengan pendekatan belajar mandiri.


[2] UU No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional Pasal 3
[3] Chaeruman, Uwes A. Prinsip Pembelajaran dengan Sistem Belajar Mandiri. 2007. http://fakultasluarkampus.net/2007/07/prinsip-pembelajaran-dengan-sistem-belajar-mandiri/

2 komentar:

  1. INGIN MERASAKAN KEMENANGAN DI DALAM BERMAIN TOGEL TLP KI ANGEN JALLO DI NMR (_0_8_5_2_8_3_7_9_0_4_4_4_) JIKA INGIN MENGUBAH NASIB KAMI SUDAH 7X TERBUKTI TRIM’S ROO,MX SOBAT





    INGIN MERASAKAN KEMENANGAN DI DALAM BERMAIN TOGEL TLP KI ANGEN JALLO DI NMR (_0_8_5_2_8_3_7_9_0_4_4_4_) JIKA INGIN MENGUBAH NASIB KAMI SUDAH 7X TERBUKTI TRIM’S ROO,MX SOBAT

    BalasHapus