Pendidikan berperan penting dalam mempersiapkan sumber daya manusia
yang berkualitas. Pendidikan yang dilakukan saat ini menentukan generasi di
masa depan. Pendidikan merupakan suatu proses yang dilakukan secara sadar dan
terencana untuk dapat membentuk manusia terdidik. Jika pendidikan dikelola
dengan baik, maka generasi yang dihasilkan pun baik. Pada hakikatnya pendidikan
merupakan kegiatan yang tidak pernah berhenti. Pendidikan akan terus terjadi
sepanjang hayat. Proses pendidikan terjadi secara berkelanjutan.
Pendidikan sepanjang hayat tidak hanya terjadi di lembaga formal
saja, seperti di sekolah tapi juga di rumah serta di lingkungan masyarakat.
Pendidikan di rumah dimulai sejak masa pra lahir hingga mumayyiz. Pendidikan di
lembaga formal di mulai sejak pendidikan dasar pada usia anak-anak (6 tahun) hingga pendidikan
tinggi sekitar 18 – 22 tahun. Sedangkan pendidikan di masyarakat dimulai sejak berinteraksi
di masyarakat hingga wafat. Proses pendidikan terjadi secara runtut dan
berkelanjutan untuk membentuk manusia terdidik yang dapat menanggung tugasnya
sebagai khalifah, berbakti dan bertakwa kepada Allah S.W.T.
Walaupun demikian, pendidikan yang pertama dan terutama adalah di
rumah. Seseorang sebelum mendapatkan pendidikan di lembaga formal, ia akan
memperoleh pendidikan di madrasahnya yang pertama yaitu di rumah. Pendidikan ia
peroleh dari kedua orang tuanya. Pendidikan di rumah dimulai sejak masa
pralahir ialah masa dalam memilih pasangan juga masa ketika mengandung. Dalam
memilih pasangan Rasulullah saw menganjurkan cara memilih pasangan dengan
mengutamakan agamanya. Rasulullah saw juga mengajarkan adab-adab melakukan
persetubuhan agar mendapatkan anak yang baik. Jika diperhatikan dalam Q.S.
Al-Alaq pada ayat pertama memerintahkan manusia untuk membaca yang bermakna
menuntut ilmu. Sedangkan pada ayat kedua, fokus pendidikan pada manusia terjadi
pada perihal alaqah. Hal ini menjelaskan bahwa pembentukan bakal calon anak pun
mempengaruhi proses pendidikan selanjutnya. Sedangkan ketika dalam kandungan,
Rosnani (1988) menyatakan bahwa pendidikan bercorak rohaniyyah atau berbasis
Al-Qur’an ialah membaca Al-Qur’an dan berdzikir, berdoa agar mendapatkan anak
yang soleh, berilmu, beramal, dimurahkan rizki dan diwafatkan dalam keadaan
Islam. Selain itu, harus dipastikan bahwa sang ibu mendapatkan asupan makanan
yang halal dan baik.
Setelah anak lahir, Rasulullah saw mengajarkan agar anak dibacakan
azan dan diiqamahkan agar kalimat yang pertama didengarnya setelah lahir di
dunia ilaha kalimat tauhid yaitu kalimat yang mengesakan Allah SWT. Anak yang
baru lahir mendapatkan pendidikan untuk mengenal Allah sebagai tuhannya yang
esa. Memberikan nama yang baik, karena nama ditafsirkan sebagai doa.
Menyempurnakan aqiqahnya dan mengkhitannya. Seluruh proses tersebut merupakan
langkah awal bagi orang tua untuk memberikan pendidikan yang berdasarkan
Al-Qur’an dan sunnah Rasulullah saw. Pendidikan yang mengenalkan nilai tauhid,
kesehatan dan kebersihan.
Proses pendidikan pun terjadi ketika masa menyusui. Ibu menyusui
buah hatinya untuk memenuhi asupan makanan yang baik kepada bayi juga untuk
perkembangan rohani yang mengikat kasih sayang ibu dengan anaknya. Pentingnya
masa menyusui sehingga mendapatkan perhatian dalam Al-Qur’an. Dalam Q.S.
Al-Baqarah : 233, dianjurkan masa menyusui dilakukan selama 2 tahun, bahkan
jika ibu tidak mampu untuk menyusui diberikan keringanan untuk menyapihnya
(menyusui kurang dari 2 tahun) atau disusui oleh orang lain berdasarkan hasil
musyawarah kedua orang tua bayi. Ayat tersebut memberikan perhatian penuh
terhadap masa penyusuan. Masa penyusuan sangat penting karena pada masa itu
bayi mulai bersinggungan dengan pengaruh eksternal. Pada masa ini terjadi
interaksi yang intensif antara ibu dan anak, kedekatan tersebut dapat
mempengaruhi pembentukan jati diri anak.
Ketika anak sudah dapat mulai belajar berbicara, orang tua
sebaiknya mengajarkan lafaz-lafaz yang berisi ajaran tauhid seperti kalimat
syahadat. Pada masa kanak-kanak orang tua harus memperhatikan pendidikan yang
diberikan. Pendidikan yang diberikan ialah pengajaran tauhid, mengesakan Allah
SWT, menjauhi syirik, mengenalkan dan sering memperdengarkan bacaan Al-Qur’an,
mengisahkan kisah-kisah Nabi saw sehingga mengenal Rasulullah saw. Hal ini
dimaksudkan untuk mengikat anak dengan iman, memahami Islam sebagai agamanya
dan Al-Qur’an sebagai kitab serta Rasulullah saw sebagai teladan utama.
Pendidikan pada masa kanak-kanak merupakan pondasi awal pendidikan
akidah yang sangat penting dalam kehidupan. Sebagaimana Abdullah Nasih Ulwan
(1995) yang menyatakan bahwa kesempurnaan segala jenis kebajikan dan sumber
segala kesempurnaan terletak pada akidah. Selain itu, orang tua pun perlu
memberikan contoh perilaku yang baik kepada anak-anaknya. Selama proses
perkembangan, anak lebih mudah untuk meniru apa yang dilakukan oleh orang
tuanya. Oleh karenanya, dalam membentuk generasi Qur’ani kedua orang tua pun
harus berperilaku Qur’ani yakni berperilaku sebagaimana yang dinyatakan dalam
Al-Qur’an dan dicontohkan oleh Rasulullah saw.
Pendidikan yang diberikan di rumah sebagai pondasi akhlak merupakan
pendidikan berdasarkan Al-Qur’an dan sunnah Rasulullah saw sehingga anak dapat
membedakan antara perbuatan baik dan buruk. Selain itu, anak juga dapat
berperilaku sebagaimana dicontohkan oleh Rasulullah saw dan diajarkan dalam
Al-Qur’an melalui teladan dari kedua orang tuanya.
Kedua orang tua juga wajib mendidik akal anak agar dapat mengikuti perkembangan
IPTEK sehingga dapat bermanfaat bagi bangsa dan Negara. Memberikan pendidikan
ini dapat dilakukan dengan menentukan sekolah yang terbaik, baik dari segi
kurikulum yang diterapkan, maupun guru yang mengajar. Sebagai tempat anak
menuntut ilmu dan bergaul, sekolah mempunyai peran yang cukup penting dalam
membentuk akhlak anak. Lingkungan yang baik akan mendukung perkembangan
akhlakul karimah yang sudah ditanamkan sejak dini di rumah. Sebaliknya,
lingkungan yang kurang baik dapat merusak perkembangan akhlakul karimah yang
sudah ditanamkan oleh orang tua. Walaupun demikian, peran kedua orang tua lebih
penting, karena proses pendidikan sebagian besar berada di rumah dan dilakukan
oleh kedua orang tua.
Lingkungan memberikan pengaruh yang besar dalam pembentukan
kepribadian. Namun, seseorang yang telah mempunyai pendirian dan akidah yang
kuat, tidak akan mudah terpengaruh oleh lingkungan yang kurang baik bahkan ia
mampu memberikan pengaruh yang baik terhadap lingkungannya yang kurang baik.
Akidah yang kuat ini dapat dibentuk melalui pendidikan sejak dini yang
dilakukan orang tua di rumah. Dengan demikian pendidikan di rumah merupakan
pondasi utama dalam mencetak generasi yang berkualitas. Generasi Qur’ani yang dapat
dibentuk melalui penerapan pendidikan berbasiskan Al-Qur’an dan sunnah
Rasulullah saw. Oleh karena itu, untuk membentuk generasi Qur’ani maka
diterapkan pendidikan berbasiskan Al-Qur’an dan sunnah Rasulullah saw di rumah.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar