Jumat, 13 Juli 2012

Perayaan Maulid Nabi

Maulid Nabi Muhammad saw, ialah suatu perayaan atas kelahiran Nabi Muhammad saw yang membawa risalah yang telah disempurnakan dari Nabi & Rasul sebelumnya. Adakah risalah atau ajaran tentang perayaan hari kelahiran Nabi Muhammad saw ? Jika baca sirah Nabawiyah, tidak ditemukan kisah tentang perayaan tersebut. Bisa dikatakan juga, semasa Nabi Muhammad saw hidup, tidak ada perayaan hari kelahirannya.
Oleh karena itu beberapa pendapat tentang hal ini, ada yang menyatakan perayaan ini sebagai bid'ah, ada yang menyatakan perayaan ini adalah bukti cinta umat kepada Rasulullah saw, manakah yang benar ? Ada beberapa literatur tentang dalil mengenai masalah ini semoga bisa jadi landasan awal menjawab pertanyaan tersebut, selanjutnya didiskusikan dengan pakarnya ya... :)
 Diantara dalilnya:
  1. Allah taala berfirman:  Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu. (Q.S. Al Maidah: 3 ). Ayat di atas menjelaskan bahwa agama islam telah sempurna tidak boleh ditambah dan dikurangi, maka orang yang mengadakan perayaan maulid Nabi yang dibuat setelah rasulullah shallallahu `alaihi wasallam wafat berarti menentang ayat ini dan menganggap agama belum sempurna masih perlu ditambah. Sungguh peringatan maulid bertentangan dengan ayat di atas.
  2. Sabda Nabi shallallahu `alaihi wasallam :  ( إِﱠﻳﺎ ُﻛ ْﻢ وَ ُﻣ ْﺤ َﺪَﺛﺎ ِت ُ اﻷ ُﻣ ْﻮِر ﻓَِﺈ ﱠن ﻛُ ﱠﻞ ﺑِ ْﺪ َﻋ ٍﺔ ﺿَ َﻼَﻟ ٌﺔ ) رواه أﺑﻮ داود واﻟﺘﺮﻣﺬي "Hindarilah amalan yang tidak ku contohkan (bid`ah), karena setiap bid`ah menyesatkan”. HR. Abu Daud dan Tarmizi. Peringatan maulid Nabi tidak pernah dicontohkan Nabi, berarti itu adalah bi'dah, dan setiap bi'dah adalah sesat, berarti maulid peringatan Nabi adalah perbuatan sesat.
  3. Sabda Nabi shallallahu `alaihi wasallam :  (( ﻣَ ْﻦ أَ ْﺣ َﺪ َث ﻓِ ْﻲ أَ ْﻣ ِﺮَﻧﺎ ھَ َﺬا ﻣَﺎ ﻟَ ْﯿ َﺲ ﻣِ ْﻨ ُﻪ ﻓَ ُﮫ َﻮ رَ ﱞد )) ﻣﺘﻔﻖ ﻋﻠﯿﻪ3وﻓﻲ رواﻳﺔ ﻟﻤﺴﻠﻢ (( ﻣَ ْﻦ ﻋَ ِﻤ َﻞ ﻋَ َﻤ ًﻼ ﻟَ ْﯿ َﺲ ﻋََﻠ ْﯿ ِﻪ أَ ْﻣ ُﺮَﻧﺎ ﻓَ ُﮫ َﻮ رَ ٌد ))  “Siapa yang menghidupkan suatu amalan yang tidak ada dasarnya dalam dien kami, amalannya ditolak.” Muttafaq ’alaih  Dalam riwayat Muslim:  “Siapa yang mengamalkan perbuatan yang tidak ada dasarnya dalam dien kami, amalannya ditolak.”Dua hadist di atas menjelaskan bahwa setiap perbuatan yang tidak dicontoh Nabi tidak akan diterima di sisi Allah subhanahu wa ta'ala, dan peringatan maulid Nabi tidak dicontohkan oleh Nabi berarti peringatan maulid Nabi tidak diterima dan ditolak.
  4. Sabda Nabi shallallahu `alaihi wasallam:  (( ﻣَ ْﻦ ﺗَ َﺸﱠﺒ َﻪ ﺑِ َﻘ ْﻮ ٍم ﻓَ ُﮫ َﻮ ﻣِ ْﻨ ُﮫ ْﻢ )) رواه أﺑﻮ داود                                      "Barang siapa yang meniru tradisi suatu kaum maka dia adalah bagian dari kaum tersebut. HR. Abu Daud.             Tradisi peringatan hari lahir Nabi Muhammad meniru tradisi kaum Nasrani merayakan hari kelahiran Al Masih (disebut dengan hari natal) , maka orang yang melakukan peringatan hari kelahiran Nabi bagaikan bagian dari kaum Nasrani -wal 'iyazubillah-.
  5. Peringatan maulid Nabi sering kita dengar dari para penganjurnya bahwa itu adalah perwujudan dari rasa cinta kepada Nabi. Saya tidak habis pikir bagaimana orang yang mengungkapkan rasa cintanya kepada Nabi dengan dengan cara melanggar perintahnya, karena Nabi telah melarang umatnya berbuat bidah. Ini laksana ungkapkan oleh seorang penyair:                           ﻟَ ْﻮ ﻛَﺎ َن ﺣُﱡﺒ َﻚ ﺻَﺎ ِدﻗًﺎ ﻟََﺄ َﻃ ْﻌَﺘـ ُﻪ  إِ ﱠن اﻟ ُﻤ ِﺤﱠﺒِﻠ َﻤ ْﻦ أَ َﺣ ﱠﺐ ﻣُ ِﻄ ْﯿـ ُﻊ                             "Jikalau cintamu kepadanya tulus murni, niscaya engkau akan mentaatinya. Karena sesungguhnya orang yang mencintai akan patuh terhadap orang yang dicintainya
  6. Orang yang mengadakan perhelatan maulid Nabi yang tidak pernah diajarkan Nabi sesungguhnya dia telah menuduh Nabi telah berkhianat dan tidak menyampaikan seluruh risalah yang diembannya.  Imam Malik berkata," orang yang membuat suatu bidah dan dia menganggapnya adalah suatu perbuatan baik, pada hakikatnya dia telah menuduh Nabi berkhianat tidak menyampaikan risalah. 
*Dikutip dari: Makalah Sejarah Maulid, hukum dan pendapat ulama terhadapnya karya Nashir Moh. Al Hanin dan sumber lain.

Selain kutipan makalah tersebut, ada artikel lain yang ditemukan dengan pendapat yang sama;
Jawaban Syaikh Muhammad bin Shalih Al-’Utsaimin rahimahullah atas pertanyaan hukum merayakan Maulid Nabi saw, ialah:
Pertama, malam kelahiran Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak diketahui secara pasti kapan. Bahkan sebagian ulama masa kini menyimpulkan hasil penelitian mereka bahwa sesungguhnya malam kelahiran beliau adalah pada tanggal 9 Robi’ul Awwal dan bukan malam 12 Robi’ul Awwal. Oleh sebab itu maka menjadikan perayaan pada malam 12 Robi’ul Awwal tidak ada dasarnya dari sisi latar belakang historis.
Kedua, dari sisi tinjauan syariat maka merayakannya pun tidak ada dasarnya. Karena apabila hal itu memang termasuk bagian syariat Allah maka tentunya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melakukannya atau beliau sampaikan kepada umatnya. Dan jika beliau pernah melakukannya atau menyampaikannya maka mestinya ajaran itu terus terjaga, sebab Allah ta’ala berfirman yang artinya, “Sesungguhnya Kamilah yang menurunkan Al Quran dan Kami lah yang menjaganya.” (QS. Al-Hijr: 9)
*Dikutip dari artikel Apa Hukum Merayakan Maulid Nabi? — Muslim.Or.Id by null

Ada juga ulama yang berpandangan bahwa Perayaan Maulid Nabi saw adalah bid'ah yang baik, dan jika dikerjakan mendapatkan pahala karena tidak bertentangan dengan Al-Qur'an dan Sunnah. Lebih lengkapnya bisa dibaca di tautan berikut;
http://blog.its.ac.id/syafii/2011/02/10/pandangan-ulama-tentang-peringatan-maulid-nabi-muhammad-saw/

Banyak orang mempunyai alasan melakukan perayaan ini, namun sebaiknya dalam melakukan suatu ibadah sudah mengetahui dengan jelas agar tidak terjerumus pada suatu amalan yang hanya merupakan rutinitas yang dilakukan oleh banyak orang tanpa tau kebenaran yang sesungguhnya, sebagaimana firman Allah :
"Dan jika kamu menuruti kebanyakan orang-orang yang di muka bumi ini, niscaya merekaakan menyesatkanmu dari jalan Allah. Mereka tidak lain hanyalah mengikuti persangkaanbelaka, dan mereka tidak lain hanyalah berdusta (terhadap Allah)"(Q.S. Al An'aam: 116 )
Wallahu 'Alam bis Shawab

sumber :
http://d2.islamhouse.com/data/id/ih_articles/id_Sejarah_Peringatan_Maulid_Nabi.pdf
http://muslim.or.id/manhaj/apa-hukum-merayakan-maulid-nabi.html
http://www.madinatulilmi.com/?prm=posting&kat=1&var=detail&id=326

Semua Berawal dari Kejujuran

Jujur adalah sifat yang berterus terang apa adanya tanpa ada hal yang dikurangi juga ditambahkan. Setiap yang dikatakan adalah kebenaran, dan setiap hal yang dilakukan adalah kenyataan tanpa ada maksud rekayasa. Jujur, kata yang sederhana tapi penuh makna. Tidak ada mata pelajaran atau mata kuliah jujur, jadi kejujuran seseorang sulit diukur karena tidak ada alat evaluasinya (tes).
Sudah banyak permasalahan bangsa, kerusakan moral generasi muda, pembangunan yang tidak merata, kesenjangan sosial yang makin tinggi dan kesejahteraan bangsa. Tak sedikit juga solusi yang ditawarkan dan sudah dilakukan untuk menyelesaikan masalah satu per sat. Tapi, banyak orang berkata, akar permasalahan utama adalah korupsi, pemerintahan yang tidak jujur. Hal inipun memicu tindakan pencurian di kalangan masyarakat tidak berjas dan berdasi.
Tindak kriminal itu berawal dari sikap tidak jujur. Orang yang koruspi berarti dia telah bertindak tidak jujur pada dirinya sendiri, pada orang yang dipimpinnya, dan terutama pada Tuhannya. Orang yang mencuri berarti dia telah bertindak tidak jujur pada diri sendiri, masyarakat, dan sang pemilik. Jika ditelusuri lebih teliti, sebenarnya semua berawal dari kejujuran.
Seorang pemimpin yang jujur, dia akan memimpin dengan melayani. Memberikan hak-hak orang-orang yang dipimpinnya, melaksanakan kewajibannya. Menepati janji yang telah diucapkannya, tanpa mencari alasan untuk bisa menjadi dalih ketidakmampuannya. Bersedia mengakui kesalahan dan bersedia memperbaikinya.
Seorang guru yang jujur, akan mendidik siswanya dengan cara yang terbaik. Datang mengajar tepat waktu dan keluar kelas sesuai dengan jadwal. Kedisiplinan tidak hanya diterapkan pada para siswanya, tapi terutama pada dirinya sendiri. Memberikan nilai sesuai kemampuan siswanya, bukan hasil tebak-tebakkan dan perkiraan semata. Berani berkata, "maaf" jika telah melakukan kesalahan. Berani mengakui kekurangan dan bersedia memperbaiki diri.
Seorang siswa yang jujur, akan melakukan kewajibannya. Berani bertanya, dan bilang "belum mengerti" serta bersedia berdiskusi dengan teman-temannya.
Kejujuran bukanlah materi pelajaran yang mudah diajarkan dan dipelajari layaknya matematika. Kejujuran adalah sebuah nilai diri yang perlu ditanamkan sejak dini di madrasah pertama yakni oleh Ibu. Bahkan Allah SWT mengutus Rasulullah saw yang memiliki sifat jujur untuk memperbaiki akhlak manusia. Rasulullah saw yang masih muda mendapatkan julukan al-Amin yang berarti yang dipercaya. Kejujuran ini adalah awal dari semua perbuatan. Jujur menggunakan waktu ialah disiplin, jujur menggunakan harta ialah hemat, jujur pada orang lain ialah kata = tindakan, jujur pada diri sendiri ialah memenuhi apa yang dibutuhkan bukan apa yang diinginkan.

Syahadatain...


Syahadatain begitu berat diperjuangkan oleh Nabi Muhammad saw dan para sahabat, bahkan mereka rela dan tidak takut terhadap segala ancaman orang kafir. Misalnya Habib, sahabat Rasulullah yang berani menghadapi siksaan yang dipotong tubuhnya satu per satu oleh Musailamah. Bilal bin Rabah mampu bertahan menerima siksaan dihimpit batu besar pada siang hari, dan beberapa deretan sahabat Rasulullah saw yang lainnya. Mereka mempertahankan syahadatain dengan jiwa raga mereka.
Mayoritas umat Islam mengartikan syahadat hanya sebatas ikrar, yang hanya diartikan sebagai pengakuan. Mengakui Tuhan yang satu, yaitu Allah SWT dan Nabi Muhammad saw sebagai utusan Allah. Pengakuan ini telah dinyatakan oleh  Allah SWT, para malaikat dan orang-orang yang berilmu sebagaimana dijelaskan dalam Q.S. Ali-imran : 18,
“Allah menyatakan bahwasanya tidak ada Tuhan melainkan Dia (yang berhak disembah), Yang menegakkan keadilan. Para malaikat dan orang-orang yang berilmu (juga menyatakan yang demikian itu). Tak ada Tuhan melainkan Dia (yang berhak disembah), Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana”
Syahadah tidak hanya mengandung arti ikrar saja, tapi juga mengandung arti sumpah dan perjanjian. Sumpah dalam kamus bahasa Indonesia berarti pernyataan disertai tekad melakukan sesuatu untuk menguatkan kebenaran atau janji yang teguh akan menunaikan sesuatu, seperti dicontohkan dalam Q.S. An Nuur : 6 dan 8.
“Orang-orang yang menuduh isterinya (berzina), padahal mereka tidak ada mempunyai saksi-saksi selain diri mereka sendiri, maka persaksian orang itu ialah empat kali bersumpah dengan nama Allah, sesungguhnya dia adalah termasuk orang-orang yang benar” (Q.S. An Nuur : 6)
“Isterinya itu dihindarkan dari hukuman oleh sumpahnya empat kali atas nama Allah sesungguhnya suaminya itu benar-benar termasuk orang-orang yang dusta” (Q.S. An Nuur : 8)
Akibat janji dan sumpah ialah adanya perilaku untuk membenarkan pengakuan yang telah diikrarkan, yakni beriman. Iman sebagai dasar dan juga hasil dari pengertian syahadah yang betul. Iman merupakan pernyataan yang keluar dari mulut, juga diyakini oleh hati dan diamalkan oleh perbuatan sebagai pengertian yang sebenarnya dari iman. Apabila kita mengamalkan syahadat dan mendasarinya dengan iman yang konsisten dan istiqamah, maka beberapa hasil akan dirasakan seperti keberanian, ketenangan dan optimis menjalani kehidupan.
Istiqamah ialah menempuh jalan (agama) yang lurus (benar) dengan tidak berpaling ke kiri maupun ke kanan. Istiqomah ini mencakup pelaksanaan semua bentuk ketaatan (kepada Allah) lahir dan batin, dan meninggalkan semua bentuk larangan-Nya. Inilah pengertian istiqomah yang disebutkan oleh Ibnu Rajab Al Hambali.

 Di antara ayat yang menyebutkan keutamaan istiqomah adalah firman Allah Ta’ala,
Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: "Rabb kami ialah Allah" kemudian mereka istiqomah pada pendirian mereka, maka malaikat akan turun kepada mereka (dengan mengatakan): "Janganlah kamu merasa takut dan janganlah kamu merasa sedih; dan bergembiralah kamu dengan (memperoleh) surga yang telah dijanjikan Allah kepadamu".” (QS. Fushilat: 30)
Ayat di atas menceritakan bahwa orang yang istiqomah dan teguh di atas tauhid dan ketaatan, maka malaikat pun akan memberi kabar gembira padanya ketika maut menjemput, “Janganlah takut dan janganlah bersedih”. Zaid bin Aslam mengatakan bahwa kabar gembira di sini bukan hanya dikatakan ketika maut menjemput, namun juga ketika di alam kubur dan ketika hari berbangkit. Inilah yang menunjukkan keutamaan seseorang yang bisa istiqomah.
Kabar gembira “janganlah takut”, dapat juga dikatakan berani. Orang yang istiqamah mempunyai keberanian untuk membela agama Allah tidak seperti orang munafik yang meragukan kekuatan Nabi Muhammad saw dan orang-orang Islam yang akan dibantu oleh Allah dengan kemenangan dan kejayaan. Allah SWT telah menjanjikan, bahwa setiap mukmin yang berjuang membela agama-Nya, akan dibantu dengan kekuatan dan kemenangan, yang telah jelas dalam Q.S. Al-Maidah : 52,
“Maka kamu akan melihat orang-orang yang ada penyakit dalam hatinya (orang-orang munafik) segera mendakati mereka (Yahudi dan Nasrani) seraya berkata, “Kami takut akan mendapat bencana”. Mudah-mudahan Allah akan mendatangkan kemenangan (kepada Rasul-Nya), atau sesuatu keputusan dari sisi-Nya. Maka karena itu mereka menyesal terhadap apa yang mereka rahasiakan dalam diri mereka.”
Kabar gembira “jangan bersedih”, dapat digambarkan sebagai ketentraman. Orang yang istiqamah akan mendapatkan ketentraman hati karena mereka mengingat Allah, dan taat dengan melakukan kebajikan. Firman Allah dalam Q.S. Ar-Ra’d : 28,
“(yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tentram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah-lah hidup menjadi tentram.”
Kabar gembira ini disampaikan kepada orang-orang beriman agar mereka istiqamah sehingga dapat menjalani hidup dengan optimis. Optimis terhadap kehidupan yang mereka jalani, karena mereka telah yakin atas janji Allah sebagaimana disebutkan dalam Q.S. An Nuur : 55.
“Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan mengerakan amal-amal yang saleh bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di muka bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridhai-Nya untuk mereka, dan Dia benar-benar akan menukar (keadaan) mereka, sesudah mereka dalam ketakutan menjadi aman sentosa. Mereka tetap menyembah-Ku dengan tiada mempersekutukan sesuatu apapun dengan Aku. Dan barang siapa yang (tetap) kafir sesudah (janji) itu, maka mereka itulah orang-orang yang fasik.”
Pada akhirnya Allah SWT memberikan kebahagiaan kepada mereka di dunia dan di akhirat. Mereka mendapatkan kebahagiaan di akhirat, yakni syurga. Allah SWT berfirman dalam Q.S. Ali-Imran : 185,
“Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Dan sesungguhnya pada hari kiamat sajalah disempurnakan pahalamu. Barangsiapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam syurga, maka sungguh ia telah beruntung. Kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdayakan.”
Wallahu ‘alam bis shawab...
Sumber:
Prayitno, Irwan. Kandungan Kalimat Syahadah. 18 Maret 2008. http://irwanprayitno.info/tarbiyah/1205808381-kandungan-kalimat-syahadat.htm
http://www.rumaisyo.com